Arti Marhaban ya Ramadhan dan Hukumnya Menurut Syariat Islam

Sahabat Muslim mungkin sering mendengar ungkapan ‘Marhaban ya Ramadhan’ saat bulan suci tiba. Ungkapan ini mencerminkan kegembiraan dan kesiapan dalam menyambut bulan penuh berkah, ampunan, dan rahmat dari Allah SWT.

Dalam Islam, mengucapkan ‘Marhaban ya Ramadhan’ bukan hanya sekadar tradisi, tetapi juga bentuk penghormatan terhadap datangnya bulan suci. Namun, bagaimana hukumnya dalam syariat? Apakah ada cara khusus dalam mengucapkannya? 

Oleh karena itu, Sahabat Muslim dapat simak penjelasan lengkapnya dalam artikel di bawah ini.

Apa itu ‘Marhaban ya Ramadhan’?

Banyak orang memahami ‘Marhaban ya Ramadhan’ sebagai ucapan ‘Selamat Datang, Ramadan’ yang memang tidak sepenuhnya keliru. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), kata marhaban diartikan sebagai seruan untuk menyambut atau menghormati kedatangan tamu. 

Menurut Quraish Shihab dalam bukunya yang berjudul “Lentera Hati, marhaban berasal dari kata rahb yang berarti luas atau lapang dan berkembang menjadi rahbah, yang merujuk pada ruang luas untuk memperbaiki kendaraan. 

Maka, ‘Marhaban ya Ramadhan’ adalah ucapan menyambut bulan suci dengan hati yang lapang serta menjadikannya sebagai momen perbaikan diri dan peningkatan spiritual.

Baca Juga: Peristiwa Penting di Bulan Sya’ban yang Membentuk Sejarah Islam

Apa Hukum Mengucapkan ‘Marhaban ya Ramadhan’ dalam Islam?

Dalam Islam, hampir setiap aspek kehidupan memiliki panduan, termasuk dalam hal memberi ucapan selamat. Tradisi ini sudah ada sejak zaman sahabat, terutama saat perayaan hari raya seperti Idul Fitri dan Idul Adha. 

Dalam kaidah fikih, ucapan ‘Marhaban ya Ramadhan’ termasuk dalam kategori al-adaat atau kebiasaan manusia, yang hukumnya mubah atau boleh selama tidak ada dalil yang melarangnya. 

Mayoritas ulama, termasuk Imam Ahmad dan Ibnu Qudamah, berpendapat bahwa mengucapkan selamat untuk hal baik seperti Ramadhan adalah sesuatu yang diperbolehkan. Bahkan, menurut Dr. Umar Al Muqbil, memberi selamat menjelang Ramadhan lebih utama karena bulan ini adalah waktu penuh keberkahan dan rahmat.

Referensi:

https://www.detik.com/sumut/berita/d-6632254/arti-marhaban-ya-ramadhan-dan-hukum-mengucapkan-selamat-menyambut-ramadan?page=1

5 Peristiwa Penting di Bulan Sya’ban yang Membentuk Sejarah Islam

Bulan Sya’ban memiliki makna istimewa bagi umat Islam. Terletak di antara Rajab dan Ramadhan, bulan ini bukan sekadar masa peralihan, tetapi juga dipenuhi peristiwa bersejarah dan nilai spiritual yang mendalam.

Pada tahun 1446 H, umat Islam di Indonesia akan menyambut Bulan Sya’ban mulai 31 Januari hingga 28 Februari 2025. Sahabat Muslim dianjurkan menjalankan amalan sunnah dan berdoa untuk menjadi hamba yang bertakwa dan beriman. 

Selain itu, memahami berbagai peristiwa penting di Bulan Sya’ban yang memiliki pengaruh besar bagi umat Islam juga dapat menambah keimanan kita. Sahabat Muslim dapat simak artikel di bawah ini untuk mengetahui peristiwa apa saja yang terjadi di Bulan Sya’ban.

1. Peristiwa Perubahan Arah Kiblat dalam Islam

Peristiwa penting di Bulan Sya’ban pertama adalah perubahan arah kiblat umat Islam, yang semula menghadap Baitul Maqdis, kemudian beralih ke Ka’bah di Masjidil Haram. Awalnya, Rasulullah SAW shalat menghadap Baitul Maqdis selama 16 bulan di Madinah. 

Namun, setelah beliau menginginkan perubahan arah, turunlah wahyu Allah SWT dalam surah Al-Baqarah: “Kami akan memalingkanmu ke kiblat yang engkau sukai, hadapkan wajahmu ke Masjidil Haram.” (QS Al-Baqarah: 144)

Baca Juga: Hukum Menunda Shalat

2. Peristiwa Turunnya Ayat Perintah Bershalawat 

Peristiwa penting lainnya di Bulan Sya’ban adalah turunnya ayat yang memerintahkan umat Islam untuk bershalawat kepada Rasulullah SAW, seperti yang tercantum dalam surah Al-Ahzab: 56.

“Sesungguhnya Allah dan malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Wahai orang-orang yang beriman! Bershalawatlah untuk Nabi dan ucapkan salam dengan penuh penghormatan kepadanya.” (QS. Al-Ahzab: 56)

3. Peristiwa Perintah Puasa Ramadhan

Sumber gambar: Freepik.com

Bulan Sya’ban adalah bulan yang terletak di antara dua bulan mulia, Rajab dan Ramadhan. Pada bulan ini, Allah SWT menurunkan perintah untuk Sahabat Muslim melaksanakan puasa pada bulan Ramadhan, sebagaimana yang tercantum dalam firman-Nya dalam surah Al-Baqarah ayat 183.

“Wahai orang-orang yang beriman! Puasa diwajibkan atas kalian sebagaimana diwajibkan atas umat sebelum kalian agar kalian menjadi orang yang bertakwa.” (QS. Al-Baqarah: 183)

4. Peristiwa Penyerahan Amal

Peristiwa penting lain di Bulan Sya’ban adalah diangkatnya amalan kita kepada Allah SWT, yang terjadi pada malam Nisfu Sya’ban. Sebagaimana dijelaskan dalam hadits riwayat An-Nasa’i, Rasulullah SAW menyampaikan kepada Usamah bin Zaid bahwa beliau berpuasa di Bulan Sya’ban karena pada bulan tersebut amal-amal diserahkan kepada Allah. 

Beliau lebih suka amalan diserahkan dalam keadaan berpuasa, karena banyak orang yang lalai pada Bulan Sya’ban.

Baca Juga: Amalan Sunnah Rasul

5. Peristiwa Perjuangan Rasulullah SAW dalam Menjaga Dakwah Islam

    Pada tahun keenam Hijriah, Bulan Sya’ban menyaksikan perjuangan Nabi Muhammad SAW dalam Perang Bani Musthaliq. Ketika suku Bani Musthaliq mengancam umat Islam, Nabi memimpin pasukannya menuju kemenangan. 

    Perang ini tidak hanya mencerminkan keberanian, tetapi juga strategi yang cermat dalam mempertahankan dakwah Islam. Hal ini menjadi contoh bagi Sahabat Muslim untuk tetap bersatu dan melawan segala bentuk ancaman yang dapat merusak keharmonisan dan persatuan umat.

    Bulan Sya’ban memiliki peran yang sangat penting dalam sejarah Islam, di mana sejumlah peristiwa besar terjadi, mulai dari perubahan arah kiblat, turunnya ayat perintah bershalawat, hingga penurunan perintah berpuasa di bulan Ramadhan. 

    Semua peristiwa ini memberikan pelajaran dan inspirasi bagi Sahabat Muslim untuk terus meningkatkan keimanan dan ketakwaan dalam kehidupan sehari-hari.

    Referensi:

    https://www.katakini.com/artikel/119879/7-peristiwa-penting-dan-bersejarah-di-bulan-syaban

    https://simpulkebaikan.id/implementasi/14/mengenang-4-peristiwa-penting-di-bulan-syaban

    Syarat Wajib Zakat Penghasilan, Kamu Termasuk?

    Zakat penghasilan adalah salah satu bentuk zakat yang wajib dikeluarkan oleh seorang Muslim yang telah memenuhi syarat tertentu. Dalam Islam, zakat berfungsi sebagai penyuci harta dan bentuk kepedulian terhadap sesama. Namun, tidak semua orang diwajibkan membayar zakat penghasilan.

    Baca Juga: https://arahmuslim.id/keutamaan-sedekah-di-waktu-sempit/

    Masih banyak yang awam mengenal zakat penghasilan, apakah pendapatannya harus di atas 5Juta? Atau 2 digit? Nah ternyata, ukuran seseorang harus menunaikan Zakat Penghasilan, bukan dari nominal pendapatannya, namun, apakah sudah memenuhi nishab atau belum. Berikut syarat seseorang wajib membayar zakat penghasilan. Simak penjelasannya di bawah ini.

    1. Beragama Islam

    Sumber gambar: Freepik.com

    Zakat adalah kewajiban bagi setiap Muslim, baik laki-laki maupun perempuan. Bagi non-Muslim, kewajiban ini tidak berlaku. Sahabat Abu Bakar Ash-Shiddiq ra, “Ini adalah kewajiban sedekah (zakat) yang telah diwajibkan oleh Rasulullah SAW. atas orang-orang Islam.” 

    2. Kepemilikan Penuh

    Sumber penghasilan yang dikenakan zakat harus berasal dari pekerjaan yang halal, dan tentunya harus sepenuhnya milik diri sendiri. Tidak boleh ada hak orang lain, misalnya memiliki utang. Harta kepemilikan penuh seperti gaji, honorarium, keuntungan bisnis, atau sumber pendapatan lain yang tidak bertentangan dengan syariat Islam.

    3. Mencapai Nisab Zakat

    Sumber gambar: Freepik.com

    Nisab adalah batas minimum penghasilan yang membuat seseorang wajib membayar zakat. Nisab zakat penghasilan disamakan dengan nisab emas, yaitu sebesar 85 gram emas dalam satu tahun. Jika dikonversi ke dalam rupiah, maka besaran nisab akan mengikuti harga emas yang berlaku saat itu. Jika penghasilan seseorang dalam satu tahun mencapai atau melebihi jumlah ini, maka wajib mengeluarkan zakat.

    Sebagai contoh, jika harga emas saat ini Rp1.000.000 per gram, maka nisab zakat penghasilan per tahun adalah Rp85.000.000. Jika penghasilan bulanan seseorang mencapai Rp7.083.000 atau lebih, maka ia wajib membayar zakat penghasilan.

    4. Mencapai Haul 

    Seseorang harus menunggu sampai haul/masa satu tahun telah berlalu sejak penghasilan pertama kali diterima, sebelum membayar zakat penghasilan. Ulama sepakat bahwa lebih baik zakat dikeluarkan secara rutin setiap kali menerima penghasilan agar lebih praktis dan manfaatnya segera dirasakan oleh penerima zakat.

    Baca Juga: https://arahmuslim.id/manfaat-salat-dhuha/ 

    Membayar zakat penghasilan adalah kewajiban bagi Muslim yang telah memenuhi syarat Islam, memiliki penghasilan halal, mencapai nisab, memiliki kelebihan dari kebutuhan pokok, dan telah melewati haul. Dengan membayar zakat, kita tidak hanya membersihkan harta tetapi juga membantu saudara-saudara kita yang membutuhkan.

    Sudahkah penghasilan Sahabat Muslim mencapai nisab? Yuk, jangan tunda kewajiban zakat kamu! Semoga rezeki kita semakin berkah dan bermanfaat. Lebih mudah & praktis bayar Zakat Penghasilan di Aplikasi ArahMuslim, selain mudah, Sahabat Muslim juga nggak perlu bingung berapa nominal yang dikeluarkan, karena tersedia Kalkulatornya. Download Aplikasi ArahMuslim di Google Play Store atau Apple Store. 

    Jangan lupa bagikan artikel ini agar lebih banyak orang memahami pentingnya zakat penghasilan! 

    Referensi: 

    https://pina.id/artikel/detail/zakat-profesi-hukum-syarat-dan-contoh-perhitungannya-x0ilsf64rp1

    Cara Bersedekah atas Nama Orang Tua yang Sudah Meninggal

    Bersedekah atas nama orang tua yang telah meninggal dunia adalah salah satu bentuk bakti seorang anak kepada kedua orang tuanya, bahkan setelah mereka tiada. Islam mengajarkan bahwa amalan seorang anak bisa menjadi pahala yang terus mengalir bagi orang tua di alam kubur. Hal ini berdasarkan sabda Rasulullah SAW. 

    “Apabila seorang manusia meninggal dunia, maka terputuslah amalannya kecuali tiga perkara: sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, atau anak shalih yang mendoakannya.” (HR. Muslim)

    Berikut adalah beberapa cara bersedekah atas nama orang tua yang sudah meninggal beserta keutamaannya:

    1. Memberikan Sedekah Jariyah

    Sedekah yang manfaatnya terus dirasakan dalam jangka panjang, seperti membangun masjid, menyumbang untuk pengadaan sumur, atau mendirikan fasilitas umum. Sedekah ini menjadi amal yang terus mengalir, sebagaimana firman Allah dalam Al-Qur’an:

    “Perumpamaan orang-orang yang menginfakkan hartanya di jalan Allah adalah seperti sebutir biji yang menumbuhkan tujuh bulir; pada tiap-tiap bulir seratus biji. Allah melipatgandakan (balasan) bagi siapa yang Dia kehendaki, dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahui.” (QS. Al-Baqarah: 261)

    2. Menyantuni Anak Yatim

    Sumber Gambar: Freepik.com

    Salah satu amalan yang sangat dianjurkan dalam Islam. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

    “Aku dan orang yang mengasuh anak yatim di surga seperti ini.” (Beliau memberikan isyarat dengan jari telunjuk dan jari tengah beliau, serta merenggangkan keduanya sedikit). (HR. Bukhari)

    Bersedekah untuk anak yatim atas nama orang tua akan menjadi ladang pahala, baik untuk Anda maupun orang tua Anda yang telah meninggal.

    3. Membiayai Pendidikan Agama

    Pendidikan agama adalah investasi akhirat yang tak ternilai harganya. Sahabat Muslim bisa menyumbangkan dana untuk mencetak Al-Qur’an, mendukung pesantren, atau membantu santri yang kurang mampu. Dengan niat sedekah atas nama orang tua, pahala dari ilmu yang dipelajari dan diamalkan akan terus mengalir kepada mereka.

    4. Berbagi Makanan atau Minuman

    Sumber Gambar: Freepik.com

    Memberikan makanan atau minuman kepada yang membutuhkan adalah salah satu bentuk sedekah yang mudah dilakukan. Kamu bisa mengadakan acara makan bersama untuk orang-orang kurang mampu dan meniatkannya atas nama orang tua Sahabat Muslim. Dalam sebuah hadits disebutkan:

    “Tidaklah kamu memberi makan orang yang lapar, kecuali kamu diberi pahala atasnya.” (HR. Bukhari dan Muslim)

    5. Bersedekah untuk Kesehatan

    Kamu juga bisa bersedekah atas nama orang tua dengan membantu mereka yang sakit, misalnya dengan menyumbang obat-obatan, alat kesehatan, atau biaya pengobatan. Rasulullah SAW. bersabda:

    “Obatilah orang-orang yang sakit di antara kalian dengan sedekah.” (HR. Abu Dawud)

    Keutamaan Bersedekah atas Nama Orang Tua

    1. Mengalirkan pahala untuk Orang Tua 
    2. Menghapus dosa & menjauhkan dari siksa kubur 
    3. Mendapat Ridha Allah 

    Tips Agar Sedekahnya Lebih Bermakna

    • Niatkan dengan Ikhlas

    Pastikan niat Sahabat Muslim murni untuk mencari ridha Allah dan memberikan pahala kepada orang tua.

    • Lakukan secara Konsisten

    Sedekah kecil namun rutin lebih disukai Allah daripada sedekah besar yang hanya sekali.

    • Pilih Sedekah yang Bermanfaat

    Utamakan sedekah yang memberikan manfaat jangka panjang.

    Dengan bersedekah atas nama orang tua yang telah meninggal, kamu tidak hanya membantu mereka mendapatkan pahala, tetapi juga menunjukkan rasa cinta dan bakti Sahabat Muslim kepada mereka. Semoga amalan ini menjadi pemberat timbangan kebaikan buat kamu dan keluarga di akhirat kelak. Aamiin Yaa Rabbal ‘Alamiin. 

    Sedekah juga dapat dilakukan melalui Aplikasi ArahMuslim, terdapat berbagai program sedekah jangka panjang, yang bisa diniatkan untuk Orang Tua yang telah meninggal. Download Aplikasi ArahMuslim melalui Google Play Store atau Apple Store & salurkan sedekah terbaik versi Sahabat Muslim.

    10 PTN yang Buka Jalur Tahfidz Al-Qur’an di Indonesia

    Apakah Anda seorang hafidz atau hafidzah yang ingin melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi negeri (PTN) melalui jalur Tahfidz Al-Qur’an? Kabar baiknya, semakin banyak PTN di Indonesia yang memberikan peluang khusus bagi para penghafal Al-Qur’an untuk mengakses pendidikan tinggi. 

    Lalu, universitas apa saja yang menerima jalur tahfidz? Dalam artikel ini, kami merangkum 10 PTN yang membuka jalur Tahfidz Al-Qur’an lengkap dengan informasi pentingnya. Yuk, simak daftar selengkapnya dan temukan universitas impian Anda

    1. Institut Pertanian Bogor

      IPB menyediakan jalur Prestasi Internasional dan Nasional (PIN) sebagai bentuk apresiasi kepada calon mahasiswa yang memiliki prestasi dalam menghafal Al-Qur’an. Hafalan minimal 5 hingga 29 juz dihargai setara dengan prestasi Olimpiade Nasional, sementara hafalan 30 juz dianggap setara dengan pencapaian di Olimpiade Internasional.

      2. Universitas Indonesia

      Sumber Gambar: awsimages.detik.net.id

      Universitas terbaik di Indonesia ini menjadi salah satu PTN yang buka jalur tahfidz Al-Qur’an. UI membuka seleksi jalur hafiz dengan persyaratan utama berupa seleksi berkas dan kemampuan menghafal Al-Qur’an minimal 2 juz.

      Baca Juga: Cara Memilih Jurusan

      3. Universitas Negeri Jakarta

        UNJ membuka penerimaan mahasiswa baru bagi penghafal Al-Qur’an melalui jalur Mandiri-Prestasi. Jalur ini juga menyediakan beasiswa khusus untuk para hafiz Al-Qur’an, termasuk uang saku sebesar Rp500.000.

        4. Universitas Gadjah Mada

        Sumber Gambar: ugm.ac.id

        UGM menyediakan jalur penerimaan sekaligus beasiswa khusus bagi calon mahasiswa penghafal Al-Qur’an, dengan prioritas untuk fakultas kedokteran. Beasiswa ini meliputi tunjangan uang saku dan pembiayaan pendidikan hingga 8 semester.

        5. Universitas Airlangga

          Universitas Airlangga menawarkan jalur penerimaan yang memberikan kesempatan khusus bagi calon mahasiswa berprestasi. Prestasi yang diakui mencakup bidang organisasi, seperti menjadi ketua OSIS, serta para penghafal kitab suci dari agama-agama yang ada di Indonesia. 

          6. Universitas Syiah Kuala

            Universitas Syiah Kuala menyediakan jalur Mandiri Prestasi khusus untuk calon mahasiswa penghafal Al-Qur’an, dengan syarat minimal hafalan 10 juz. Program ini juga menawarkan sejumlah manfaat, seperti pembebasan biaya kuliah selama satu semester, dan penghapusan biaya SPP sepenuhnya bagi mahasiswa yang mampu menghafal hingga 30 juz.

            7. Universitas Padjadjaran

            Sumber Gambar: blog-edutore-partner.s3.ap-southeast-1.amazonaws.com

            Unpad membuka kesempatan bagi calon mahasiswa baru jenjang sarjana dan sarjana terapan melalui jalur minat dan bakat atau prestasi non-akademik, yang mencakup bidang riset dan inovasi, olahraga, seni budaya, penghafal kitab suci, serta kegiatan keagamaan lainnya melalui jalur mandiri.

            Baca Juga: Nama Seleksi PTN dari Masa ke Masa

            8. UIN Jakarta

              Jalur prestasi UIN Jakarta membuka kesempatan bagi siswa berprestasi, baik di tingkat nasional maupun internasional, dalam bidang akademik maupun non-akademik. Salah satu prestasi non-akademik yang diterima adalah penghafal Al-Qur’an dengan minimal 15 juz.

              9. Institut Teknologi Sepuluh Nopember

              Sumber Gambar: .its.ac.id

              ITS di Surabaya membuka jalur seleksi prestasi untuk penghafal Al-Qur’an melalui SNMPTN dan Jalur Mandiri. Calon mahasiswa wajib untuk menghafal minimal 10 juz Al-Qur’an.

              1. UIN Malang

              UIN Malang menawarkan beasiswa penuh untuk calon mahasiswa dalam empat kategori. Kategori pertama adalah penghafal Al-Qur’an 30 juz. Selain itu, beasiswa juga diberikan kepada Anda yang memiliki keahlian dalam qira’atul kutub, tafsir jalalain (juz 1 hingga 3), tahfidz Alfiyah Ibnu Malik, serta hafalan hadis Arbain beserta isinya dengan baik.

              Referensi:

              https://edukasi.sindonews.com/read/1466845/211/8-ptn-yang-buka-jalur-khusus-tahfiz-coba-cek-kampus-pilihanmu-ada-ga-1727928629

              https://santrihub.or.id/daftar-perguruan-tinggi-dengan-jalur-masuk-untuk-tahfidz-apa-saja

                    Mengenal 8 Golongan Penerima Zakat yang Sah Menurut Syariat Islam

                    Dalam ajaran Islam, zakat merupakan salah satu rukun Islam yang wajib ditunaikan oleh setiap Muslim yang mampu. Zakat tidak hanya menjadi ibadah, tetapi juga berfungsi sebagai solusi sosial untuk membantu sesama. 

                    Allah SWT telah menetapkan delapan golongan yang berhak menerima zakat, sebagaimana disebutkan dalam Surah At-Taubah ayat 60:

                    “Sesungguhnya zakat itu hanyalah untuk orang-orang fakir, orang miskin, amil zakat, yang dilunakkan hatinya (mualaf), untuk (memerdekakan) hamba sahaya, untuk (membebaskan) orang yang berhutang, untuk jalan Allah dan untuk orang yang sedang dalam perjalanan, sebagai kewajiban dari Allah.”

                    Mari, simak artikel ini untuk mendalami beberapa golongan penerima zakat dalam Islam.

                    Siapa Saja Golongan yang Wajib Diberi Zakat?

                    Setiap Muslim yang memenuhi syarat wajib menunaikan zakat, baik itu zakat fitrah atau zakat mal untuk membantu golongan yang membutuhkan. Namun, siapa saja yang berhak menerima zakat? 

                    Dalam Islam, ada 8 golongan penerima zakat yang dikenal dengan istilah “asnaf”, antara lain:

                    1. Fakir

                    Fakir adalah orang yang hidup dalam kemiskinan ekstrem. Mereka tidak memiliki penghasilan yang cukup untuk memenuhi kebutuhan dasar seperti makanan, pakaian, dan tempat tinggal. Golongan ini menjadi prioritas utama penerima zakat.

                    2. Miskin

                    Miskin adalah golongan yang hidup dalam kondisi serba kekurangan, meskipun mereka memiliki penghasilan. Namun, penghasilan tersebut tidak cukup untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari.

                    3. Amil

                    Amil adalah orang yang bertugas mengelola zakat, mulai dari pengumpulan hingga pendistribusian kepada yang berhak. Amil menerima zakat sebagai bentuk penghargaan atas tugasnya, yang sering kali membutuhkan banyak tenaga dan waktu.

                    4. Muallaf

                    Muallaf adalah mereka yang baru masuk Islam atau orang yang imannya masih lemah. Dukungan melalui zakat diharapkan dapat memperkuat keyakinan mereka dan mempermudah mereka beradaptasi dengan ajaran Islam.

                    5. Riqab

                    Riqab adalah budak yang berjuang untuk mendapatkan kebebasan. Dalam konteks modern, riqab dapat dimaknai sebagai upaya membebaskan seseorang dari bentuk perbudakan atau membantu orang yang terjebak dalam situasi eksploitasi berat.

                    6. Gharimin

                    Gharimin adalah orang yang terlilit utang dan tidak mampu melunasinya. Zakat diberikan kepada mereka untuk meringankan beban dan membantu mereka keluar dari masalah finansial.

                    7. Sabilillah

                    Sabilillah mencakup orang-orang yang berjuang di jalan Allah, baik melalui dakwah, pendidikan, atau kegiatan yang mendukung kemaslahatan umat Islam. Termasuk dalam kategori ini adalah pembangunan masjid, madrasah, atau lembaga keagamaan lainnya.

                    8. Ibnu Sabil

                    Ibnu Sabil adalah musafir atau orang yang kehabisan bekal dalam perjalanan. Zakat diberikan untuk membantu mereka melanjutkan perjalanan, asalkan tujuan perjalanan tersebut tidak bertentangan dengan syariat Islam.

                    Baca Juga: Keutamaan Sedekah di Waktu Sempit

                    Berzakat Lebih Mudah dengan Aplikasi ArahMuslim

                    Ada berbagai cara untuk melaksanakan kewajiban berzakat. Namun, berzakat menjadi lebih mudah dengan adanya aplikasi ArahMuslim, yang memudahkan Anda untuk menunaikan kewajiban zakat secara praktis. 

                    Dengan aplikasi Islam ini, Anda bisa menyalurkan zakat kepada 8 golongan penerima zakat yang berhak menerimanya hanya dengan beberapa langkah mudah di ponsel Anda. Aplikasi ArahMuslim memastikan proses berzakat Anda aman, transparan, dan tepat sasaran.

                    Kini, Anda tidak perlu lagi khawatir tentang cara menyalurkan zakat yang benar dan tepat. ArahMuslim menyediakan berbagai pilihan zakat, mulai dari zakat fitrah hingga zakat mal. Hubungi kami sekarang dan manfaatkan kemudahan berzakat dengan aplikasi ArahMuslim untuk membantu Anda berkontribusi pada kesejahteraan umat Islam.

                    Referensi:

                    https://baznas.go.id/zakat

                    Mahar Pernikahan yang Dianjurkan dalam Islam, serta Contoh dan Esensinya

                    Mahar pernikahan seringkali dianggap sebagai sesuatu yang harus besar atau mahal. Banyak orang yang berpikir bahwa semakin besar mahar, semakin baik pernikahan tersebut. Akan tetapi, tahukah kamu bahwa dalam Islam, mahar yang dianjurkan sebenarnya sangat sederhana dan tidak memberatkan?

                    Dalam Islam, mahar merupakan pemberian wajib dari mempelai pria kepada mempelai wanita sebagai tanda kesungguhan dan penghormatan dalam pernikahan. Meskipun mahar ini penting, Islam tidak pernah mengharuskan besaran yang terlalu tinggi atau mewah. Justru, Islam menganjurkan agar mahar diberikan sesuai kemampuan tanpa berlebihan.

                    Oleh karena itu, simak artikel di bawah ini untuk mengetahui mahar pernikahan yang dianjurkan dalam Islam selengkapnya.

                    Mahar yang Mudah dan Sederhana

                    Rasulullah SAW sendiri menganjurkan agar mahar tidak memberatkan. Dalam sebuah hadist disebutkan:

                    “Sebaik-baik mahar adalah yang paling mudah (ringan).” (HR. Abu Dawud, No. 2117)

                    Hadits ini menunjukkan bahwa Islam lebih menyukai mahar yang sederhana. Mahar yang terlalu tinggi justru bisa memberatkan pihak laki-laki, sehingga bisa menunda atau bahkan menghalangi niat baik untuk menikah.

                    Baca Juga: Amalan Sunnah di Hari Jumat

                    Contoh Mahar di Zaman Rasulullah SAW

                    Ada banyak contoh mahar sederhana yang diberikan di zaman Rasulullah. Salah satu kisah yang terkenal adalah pernikahan antara Rasulullah SAW dengan Aisyah RA, di mana mahar yang diberikan berupa 500 dirham, jumlah yang sangat sederhana di masa itu. 

                    Dalam pernikahan putri Rasulullah, Fatimah RA, dengan Ali bin Abi Thalib RA, mahar yang diberikan juga sangat sederhana, yaitu berupa baju besi. Dalam hadist lain, Rasulullah SAW bersabda:

                    “Wanita yang paling besar berkahnya adalah yang paling mudah maharnya.” (HR. Ahmad, No. 24595)

                    Hal ini menunjukkan bahwa keberkahan dalam pernikahan bukan diukur dari besarnya mahar, melainkan dari kesederhanaan dan kemudahan yang diberikan.

                    Apa Esensi Mahar dalam Islam?

                    Sumber Gambar: freepik.com

                    Islam memandang mahar sebagai simbol kasih sayang, bukan sebagai harga atau beban finansial. Tujuan mahar adalah untuk menghormati wanita, bukan untuk mempersulit pernikahan. Oleh karena itu, Islam mengajarkan agar mahar disesuaikan dengan kemampuan dan tidak memaksakan jumlah yang terlalu besar.

                    Selain itu, mahar dalam Islam tidak hanya terbatas pada bentuk materi. Ada kisah di mana seorang sahabat yang tidak mampu memberikan mahar berupa harta benda, Rasulullah membolehkan mahar berupa hafalan Al-Qur’an. Sebagaimana disebutkan dalam hadits:

                    “Carilah sesuatu yang bisa dijadikan mahar, meskipun hanya cincin dari besi. Jika kamu tidak punya, maka ajarkan dia ayat-ayat dari Al-Qur’an.” (HR. Bukhari, No. 5121)

                    Hadits ini menunjukkan fleksibilitas dalam pemberian mahar, bisa berupa sesuatu yang sederhana.

                    Baca Juga: Bulan Baik untuk Menikah dalam Islam

                    Menjaga Kesederhanaan dalam Pernikahan

                    Dengan kesederhanaan mahar, pernikahan diharapkan menjadi lebih mudah dan terjangkau bagi semua kalangan. Hal ini juga sesuai dengan prinsip Islam yang menganjurkan untuk tidak berlebihan dalam segala hal, termasuk dalam pernikahan.

                    Mahar yang tinggi bisa menjadi beban bagi calon mempelai pria dan keluarganya. Akibatnya, banyak pasangan yang akhirnya menunda pernikahan karena tidak mampu memenuhi mahar yang diminta. 

                    Padahal, Islam menganjurkan agar pernikahan tidak dipersulit dan dilakukan sesegera mungkin ketika sudah ada kesiapan.

                    Referensi:

                    Mahar

                    Doa Agar Wajah Bercahaya dalam Islam

                    Setiap umat Islam tentu ingin memiliki wajah yang tidak hanya sehat, tetapi juga bercahaya dan memancarkan kecantikan yang alami. Dalam Islam, kecantikan bukan hanya tentang penampilan fisik, tetapi juga mencakup kecantikan hati dan perilaku. Namun, untuk mendapatkan wajah yang bercahaya, ada beberapa amalan dan doa yang dapat dilakukan. Salah satunya adalah doa-doa yang diajarkan dalam ajaran Islam untuk memohon kecantikan yang hakiki dan cahaya yang memancar dari wajah.

                    Doa untuk Kecantikan dan Cahaya Wajah

                    Dalam Islam, salah satu cara untuk memohon wajah yang bercahaya adalah dengan berdoa kepada Allah SWT, yang Maha Pemberi Cahaya. Doa ini bukan hanya sekadar untuk penampilan fisik, tetapi juga mencakup hati yang bersih, penuh dengan iman, dan taqwa.

                    Salah satu doa yang bisa diamalkan untuk memohon wajah yang bercahaya adalah sebagai berikut:

                    Doa untuk Wajah Bercahaya:

                    اللّهُمّ جَمِّلْنِي بِالْجَمَالِ وَالنُّورِ

                    Allahumma jammilni bil jamali wal nur

                    (Yaa Allah, hiasi aku dengan kecantikan dan cahaya)

                    Doa ini memohon kepada Allah untuk diberikan kecantikan dan cahaya, baik dari luar maupun dalam. Dalam hadis juga disebutkan bahwa cahaya yang terpancar dari wajah seorang Muslim bukan hanya dipengaruhi oleh penampilan fisik, tetapi juga oleh hati yang bersih dan penuh dengan ketakwaan kepada Allah.

                    Amalan Lain untuk Mencapai Wajah yang Bercahaya

                    Selain doa, ada beberapa amalan yang bisa dilakukan agar wajah kita bercahaya, di antaranya:

                    Berwudhu dengan sempurna

                    Wajah yang selalu terjaga kesuciannya dengan berwudhu akan memancarkan cahaya, karena berwudhu adalah salah satu cara kita untuk mendekatkan diri kepada Allah.

                    Shalat Tepat Waktu

                    Melaksanakan shalat tepat waktu adalah salah satu ibadah yang sangat penting dalam Islam. Selain memberi ketenangan hati, shalat juga memancarkan cahaya pada wajah seseorang.

                    Membaca Al-Qur’an

                    Salah satu cara agar hati dan wajah kita bercahaya adalah dengan selalu membaca Al-Qur’an. Setiap huruf yang dibaca mendatangkan keberkahan dan cahaya bagi pembacanya.

                    Bersedekah

                    Sedekah dapat membersihkan hati dan mendatangkan cahaya dalam hidup seseorang. Dengan bersedekah, wajah kita akan memancarkan kebahagiaan dan ketulusan.

                    Menjaga Akhlak yang Baik

                    Wajah yang memancarkan cahaya juga bisa diperoleh dengan memiliki akhlak yang baik. Senyuman, kesabaran, dan sikap ikhlas dalam menjalani kehidupan sehari-hari akan membuat wajah kita terlihat lebih bercahaya dan mempesona.

                    Sumber:

                    Doa Wajah Bercahaya

                    Tak Banyak yang Tahu! Inilah 7 Pemuda Islam yang Berpengaruh dalam Sejarah Indonesia

                    Sumber Gambar: wikipedia.org

                    Sejarah Indonesia dipenuhi oleh tokoh-tokoh yang berperan penting dalam perjuangan bangsa. Di balik nama-nama besar yang sering kita dengar, ada banyak pemuda Islam yang berpengaruh namun kurang diketahui. 

                    Dalam artikel ini, Sahabat Muslim akan mengetahui tujuh tokoh pemuda Islam berpengaruh dalam sejarah Indonesia, meskipun namanya mungkin tidak sepopuler yang lain. Mari, simak artikel secara seksama!

                    1. Sultan Syarif Kasim II

                    Sultan Syarif Kasim II adalah Sultan Siak yang berperan aktif dalam melawan penjajahan Belanda. Ia memimpin perlawanan yang dikenal dengan nama Perang Siak (1946-1949) dan mengorganisir angkatan bersenjata untuk melawan kekuatan kolonial. 

                    Selain itu, ia juga berusaha memperkuat pendidikan dan kebudayaan Islam di wilayahnya, sehingga mampu melahirkan generasi muda yang berpengetahuan dan berani.

                    2. Raden Ahmad Soerjopranoto

                    Raden Ahmad Soerjopranoto adalah seorang pendidik dan aktivis yang terlibat dalam organisasi Budi Utomo dan Muhammadiyah. Ia adalah salah satu tokoh pemuda Islam dalam perjuangan Indonesia yang memperjuangkan pendidikan bagi kaum pribumi dengan mendirikan sekolah-sekolah untuk meningkatkan akses pendidikan di kalangan rakyat. 

                    Selain itu, ia juga aktif dalam kampanye sosial untuk meningkatkan kesadaran masyarakat akan hak-hak mereka sebagai warga negara.

                    Baca Juga: Bagaimana Proses Pencucian Kabah?

                    3. Haji Agus Salim

                    Haji Agus Salim adalah diplomat ulung yang memegang peranan penting dalam mendirikan Masyumi, partai politik yang memperjuangkan kepentingan umat Islam di Indonesia. Ia aktif dalam perundingan yang menghasilkan pengakuan kedaulatan Indonesia oleh Belanda melalui Konferensi Meja Bundar (1949). 

                    Selain itu, ia juga terlibat dalam pengembangan pendidikan Islam dan menjadi jembatan antara pemuda dan pemimpin nasional dalam perjuangan kemerdekaan.

                    4. Mohammad Roem

                    Sebagai diplomat dan politisi, Mohammad Roem berperan penting dalam upaya diplomasi Indonesia pasca kemerdekaan. Ia menjadi juru bicara yang mewakili Indonesia dalam perundingan dengan Belanda untuk memperoleh pengakuan internasional. 

                    Roem juga terlibat dalam pembentukan partai politik dan memperjuangkan hak-hak umat Islam di parlemen, sehingga membantu membangun fondasi bagi pemerintahan Indonesia yang baru.

                    5. Dr. Wahid Hasyim

                    Dr. Wahid Hasyim, sebagai pendiri Nahdlatul Ulama, menjadi salah satu tokoh pemuda Muslim bersejarah di Indonesia yang berperan besar dalam pengembangan pendidikan Islam dan pelestarian nilai-nilai Islam. Ia juga menjadi Menteri Agama pertama Indonesia dan mendorong pembentukan lembaga-lembaga pendidikan Islam yang lebih modern. 

                    Melalui ajarannya, ia membangun semangat toleransi antarumat beragama dan mengajak pemuda untuk berperan aktif dalam kehidupan sosial dan politik.

                    Baca Juga: Pentingnya Wakaf Al-Quran

                    6. Zainul Arifin

                    Zainul Arifin dikenal sebagai pemimpin organisasi pemuda Islam yang aktif dalam mengorganisir gerakan sosial dan politik. Ia berjuang untuk hak-hak umat Islam dan membantu memperkuat solidaritas antar pemuda dari berbagai latar belakang. 

                    Upayanya dalam menyebarkan semangat perjuangan dan pendidikan sangat berharga, menginspirasi generasi muda untuk lebih peduli terhadap isu-isu sosial dan politik di tanah air.

                    7. Abdul Rahman Saleh

                    Abdul Rahman Saleh adalah seorang pahlawan yang terlibat aktif dalam perjuangan kemerdekaan Indonesia. Ia berpartisipasi dalam berbagai organisasi Islam dan berjuang di front-line melawan penjajahan. 

                    Selain itu, ia juga dikenal karena perannya dalam pengorganisasian pasukan dan menyusun strategi pertempuran yang efektif. Dedikasi dan pengorbanannya menjadi inspirasi bagi banyak pemuda untuk berjuang demi kemerdekaan dan keadilan.

                    Referensi:

                    https://www.britannica.com/topic/history-of-Indonesia/Islamic-influence-in-Indonesia

                    Salju Menyelimuti Gurun Arab, Pertanda Akhir Zaman?

                    salju di gurun arab

                    Pada Jumat, 8 November 2024, pemandangan tak biasa hadir di gurun Al-Jawf, Arab Saudi/ Hamparan pasir yang biasanya panas dan tandus mendadak tertutup lapisan salju. Momen langka ini pertama kali muncul di media sosial melalui unggahan Nurlan Mededov, seorang jurnalis Azerbaijan, di platform X, yang memperlihatkan foto dan video fenomena alam ini. 

                    Sontak, kejadian tersebut menjadi sorotan dunia dan menimbulkan pertanyaan banyak orang. apakah ini hanya anomali cuaca atau sebuah tanda menuju akhir zaman?

                    Mengapa Salju Bisa Turun di Gurun Pasir Arab?

                    Menurut penjelasan dari National Centre of Meteorology (NCM) Uni Emirat Arab, turunnya salju di gurun ini disebabkan oleh terbentuknya sistem tekanan rendah di Laut Arab. Sistem ini membawa massa udara lembap yang mengandung uap air ke wilayah Arab, lalu bertemu dengan udara panas di atas gurun. Akibatnya, terjadi fenomena cuaca yang tak lazim, yakni guntur, hujan es, dan akhirnya hujan salju di wilayah yang biasanya dikenal kering dan panas ini.

                    Fenomena Langka dan Dampak Perubahan Iklim

                    Turunnya salju di gurun pasir tentu saja mengejutkan, apalagi saat banyak negara lain justru dilanda cuaca panas ekstrem. Para ahli menilai bahwa fenomena aneh ini merupakan salah satu dampak perubahan iklim global yang mulai mempengaruhi pola cuaca di berbagai penjuru dunia. Kejadian serupa juga terjadi di Jepang, di mana Gunung Fuji yang biasanya bersalju kini tidak menunjukkan tanda-tanda turunnya salju pada waktu yang semestinya.

                    Pemerintah setempat di Arab Saudi langsung mengeluarkan imbauan kepada masyarakat agar bersiap menghadapi cuaca dingin yang tak terduga. Masyarakat dianjurkan mengenakan pakaian hangat untuk melindungi diri dari suhu dingin yang jarang terjadi di wilayah tersebut.

                    Baca Juga:

                    8 Pintu Surga yang Harus Kamu Tahu

                    Salju di Gurun, Pertanda Akhir Zaman?

                    Fenomena ini turut mengundang perdebatan di kalangan umat Islam. Apakah turunnya salju di gurun Arab merupakan pertanda akhir zaman? Berdasarkan penelusuran dan literatur Islam, tidak ditemukan ayat Al-Qur’an maupun hadis yang secara spesifik menyebut bahwa turunnya salju di Arab adalah salah satu tanda datangnya hari kiamat.

                    Meski begitu, ada hadis yang menyatakan bahwa menjelang akhir zaman, tanah Arab akan kembali subur dan dipenuhi dengan sungai. Hadis yang diriwayatkan oleh Muslim, Ibnu Hibban, dan Ahmad menyebutkan bahwa Rasulullah SAW bersabda, 

                    “Kiamat tidak akan dimulai sampai bumi Arab kembali menjadi tanah lapang penuh tumbuhan dan sungai-sungai mengalir.” 

                    Hadis ini dapat dimaknai sebagai indikasi perubahan iklim yang signifikan, di mana tanah Arab yang tandus berubah menjadi lebih hijau dan subur.

                    Jika dihubungkan dengan kondisi iklim saat ini, perubahan pola cuaca yang tidak lazim memang sedang terjadi. Perubahan iklim akibat pemanasan global diyakini menyebabkan berbagai anomali cuaca, termasuk fenomena turunnya salju di wilayah yang biasanya gersang.

                    Kapan Hari Kiamat Akan Terjadi?

                    Meskipun terdapat beberapa tanda akhir zaman yang telah disebutkan dalam Al-Qur’an dan hadis, tak ada satu pun makhluk yang mengetahui secara pasti kapan hari kiamat akan datang. Allah SWT berfirman dalam surah Al-A’raf ayat 187, bahwa waktu kiamat hanya diketahui oleh Allah. Bahkan Rasulullah SAW sekalipun tidak memiliki pengetahuan pasti mengenai kapan kiamat akan terjadi.

                    Baca Juga:

                    Bagaimana Proses Pencucian Ka’bah?

                    Firman Allah tersebut menegaskan bahwa kiamat akan datang secara tiba-tiba, dan manusia tidak akan pernah bisa memprediksi kapan hari itu tiba. Namun, beberapa tanda besar kiamat yang disebutkan dalam Al-Qur’an dan hadis, seperti munculnya Imam Mahdi, keluarnya Ya’juj dan Ma’juj, serta turunnya Isa Al-Masih, belum terjadi hingga kini.

                    Apa yang Bisa Kita Lakukan?

                    Fenomena ini seharusnya menjadi pengingat bagi setiap muslim untuk mempersiapkan diri menghadapi hari akhir dengan memperbanyak ibadah kepada Allah dan bertobat dari segala dosa. Seperti yang ditegaskan oleh Ibnu Katsir dalam kitab Al-Fitan, setiap manusia pasti akan menghadapi kiamat kecil, yaitu kematian. Sementara hari kiamat yang sesungguhnya masih menjadi misteri, setiap individu dapat mempersiapkan diri dengan meningkatkan kualitas ibadah dan menjaga hubungan baik dengan Allah SWT.

                    Dengan begitu, peristiwa turunnya salju di gurun Arab dapat kita maknai sebagai bagian dari kekuasaan Allah atas alam semesta, sekaligus sebagai pengingat bagi kita untuk selalu siap menghadapi segala ketentuan-Nya.

                    Sumber:

                    Salju Turun di Arab