Keutamaan Memiliki Sifat Jujur

Jujur adalah salah satu sifat terpuji yang memiliki kedudukan tinggi dalam ajaran Islam. Kehadiran sifat jujur bukan hanya sebagai nilai moral tetapi juga sebagai landasan etika yang mendasari hubungan manusia dengan Allah SWT dan sesama. Dalam Islam, jujur dianggap sebagai tindakan yang mulia dan memiliki banyak keutamaan. 

Berikut akan dijelaskan beberapa aspek keutamaan memiliki sifat jujur dalam Islam. Simak hingga selesai!

1. Ketaatan terhadap Allah

Dalam Islam, kejujuran adalah cerminan dari ketaatan seseorang terhadap Allah SWT. Allah SWT mencintai hamba-Nya yang jujur dan tulus dalam segala aspek kehidupannya. Seorang Muslim yang jujur menunjukkan penghormatan dan ketaatan yang tulus kepada Allah SWT, karena dia memegang teguh nilai kebenaran yang ditegaskan dalam ajaran Islam.

2. Menjaga Amanah

Kejujuran dalam Islam berarti menjaga amanah. Amanah adalah tanggung jawab atau kepercayaan yang diberikan oleh Allah SWT kepada manusia. Sebagai manusia yang jujur, seseorang diharapkan menjaga amanah dengan baik, baik dalam urusan keuangan, perkataan, maupun tindakan. 

Baca Juga:

Keutamaan Membaca Surah Al-Baqarah

Rasulullah SAW bersabda, “Jika amanah telah diabaikan, maka tunggulah kehancuran.” (HR. Bukhari)

3. Menjaga Hubungan Sesama Manusia

Sifat jujur menjadi dasar dari hubungan yang sehat antara sesama manusia. Kejujuran menciptakan kepercayaan dan ketulusan dalam interaksi sosial. Dengan menjadi jujur, seseorang dapat membangun hubungan yang kuat dan harmonis dengan orang lain. 

Rasulullah SAW bersabda, “Jauhilah kedustaan, karena kedustaan membawa kepada kefasikan, dan kefasikan membawa kepada neraka.” (HR. Bukhari)

4. Mendapatkan Ridha Allah

 Keutamaan memiliki sifat jujur adalah mendapatkan ridha Allah SWT. Dengan menjalani hidup dengan jujur, seseorang mendekatkan diri kepada Allah SWT dan meraih keberkahan dalam hidupnya. 

Allah SWT berfirman dalam Al-Quran, “Dan janganlah kamu campur adukkan yang benar dengan yang bathil, dan janganlah kamu sembunyikan yang benar itu, sedang kamu mengetahui.” (QS. Al-Baqarah: 42)

5. Pahala di Akhirat

Kejujuran akan memberikan pahala yang besar di akhirat. Seorang Muslim yang jujur akan mendapatkan ganjaran yang melimpah dari Allah SWT. 

Rasulullah SAW bersabda, “Sesungguhnya kejujuran membawa kepada kebaikan, dan kebaikan membawa kepada surga. Seseorang akan terus jujur dan berbicara jujur sehingga dia dikatakan oleh Allah sebagai orang yang jujur.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Keutamaan memiliki sifat jujur dalam Islam mencakup aspek ketaatan kepada Allah, menjaga amanah, membangun hubungan yang baik dengan sesama manusia, mendapatkan ridha Allah, dan mendapatkan pahala di akhirat. Kejujuran bukan hanya sebuah nilai, tetapi juga sebuah prinsip hidup yang menjadi landasan bagi kehidupan seorang Muslim. 

Baca Juga:

Macam-macam Doa saat Hujan Turun

Dengan menjadikan kejujuran sebagai panduan dalam setiap tindakan, seorang Muslim dapat mengarungi kehidupan dengan penuh integritas dan mendapatkan keberkahan dari Allah SWT.

Referensi:https://www.detik.com/hikmah/khazanah/d-6989725/4-keutamaan-sikap-jujur-menurut-hadits-salah-satu-akhlak-mahmudah

7 Hal yang Tidak Boleh Diumbar di Media Sosial

Media sosial telah menjadi bagian integral di kehidupan kita sehari-hari. Hal ini dikarenakan media sosial memungkinkan kita untuk terhubung dengan orang-orang dari berbagai belahan dunia.

Akan tetapi, sebagai individu yang mengidentifikasi diri dalam kerangka nilai-nilai Islam, ada tanggung jawab moral dan etika yang harus diperhatikan dalam berinteraksi di dunia maya. Artikel ini akan menjelaskan tujuh hal yang tidak boleh diumbar di media sosial menurut perspektif Islam. Simak hingga selesai, ya!

1. Aib dan Privasi

Pada dasarnya, Islam mengajarkan untuk menjaga aib dan privasi orang lain. Menyebarkan informasi atau gambar yang merugikan atau merendahkan martabat seseorang dapat melanggar nilai-nilai etika Islam. Rasulullah Saw. bersabda, “Barangsiapa menutupi aib seorang Muslim, maka Allah akan menutupi aibnya di dunia dan akhirat.”

2. Gibah dan Namimah

Gibah dan namimah atau pencemaran nama baik adalah perbuatan tercela dalam Islam. Hal ini dikarenakan menyebarluaskan informasi palsu dapat menciptakan ketidakharmonisan di antara sesama Muslim. Selain itu, hal ini juga melanggar nilai-nilai persaudaraan dan toleransi yang diajarkan agama.

Baca Juga:

Doa Mustajab saat Hadapi Masalah

3. Pencemaran Agama

Menyebarkan materi atau komentar yang dapat merendahkan agama Islam atau agama lain bertentangan dengan etika Islam. Islam mengajarkan untuk menghormati keyakinan orang lain dan tidak mengejek atau mencemooh agama lain.

4. Fitnah dan Boikot

Menyebar fitnah atau berpartisipasi dalam upaya untuk merusak hubungan antarindividu atau kelompok merupakan tindakan yang dihindari dalam Islam. Sebaliknya, Islam mendorong untuk menyelesaikan konflik melalui dialog dan toleransi.

5. Kesenangan yang Merugikan

Menampilkan atau berbicara terbuka tentang aktivitas atau materi yang melibatkan hal-hal yang dilarang dalam Islam, seperti minuman keras, judi, atau perilaku asusila, dapat merusak citra individu dan menciptakan pengaruh negatif.

6. Kebohongan dan Sumpah Palsu

Islam sangat menekankan pentingnya kejujuran. Menyebar kebohongan atau sumpah palsu di media sosial bertentangan dengan nilai-nilai keadilan dan kebenaran yang diajarkan agama.

7. Menghina atau Menistakan Agama

Menghina atau menistakan simbol-simbol agama, baik Islam maupun agama lain, di media sosial dapat menimbulkan ketegangan dan mengancam kerukunan antarumat beragama. Islam menekankan pentingnya menjaga toleransi dan kerukunan antarumat beragama.

Baca Juga:

Penyebab Terhalangnya Hidayah

Secara keseluruhan, etika di media sosial menurut perspektif Islam mencakup kesadaran akan dampak kata-kata dan tindakan kita terhadap orang lain. Mematuhi prinsip-prinsip ini dapat membantu menciptakan lingkungan daring yang positif dan membantu dalam pembentukan masyarakat yang lebih baik sesuai dengan nilai-nilai Islam.

Sumber: https://www.kominfo.go.id/content/detail/9824/haram-dan-dilarang-dilakukan-di-medsos-menurut-mui/0/sorotan_media#:~:text=Melakukan%20ghibah%2C%20fitnah%2C%20namimah%2C%20dan%20penyebaran%20permusuhan.

Ketahui Hukum Berbelanja Menggunakan Diskon Natal

Menjelang natal, sejumlah toko baik offline maupun online memberikan banyak potongan harga atau diskon natal untuk para pembelinya. Dalam pandangan Islam, hal ini menimbulkan banyak perdebatan dan pendapat.

Sebagian kalangan menganggap bahwa hukum membeli barang diskonan tersebut adalah haram sebab termasuk menyemarakkan hari raya agama lain. Ada juga yang menganggap alasan keharaman tersebut akibat menyerupai perbuatan kaum non-muslim. Akan tetapi, sebagian lainnya berpendapat boleh sebab dikaitkan dengan kebolehan hukum bertansaksi, termasuk kepada pihak non-muslim.

Lantas, bagaimana kita harus bersikap? Mari simak artikel ini hingga selesai!

Pandangan Islam tentang Membeli Barang Diskon Natal

Dalam Islam, terdapat dua pandangan pro dan kontra perihal transaksi atau aktivitas jual-beli menggunakan diskon natal. Kedua pandangan tersebut sama-sama memiliki pembenaran secara fiqhiyyah.

Mereka yang berpendapat haram merujuk pada referensi yang mengarah kepada keharaman menyerupai aktivitas non-muslim misalnya referensi di kitab Al-Mi’yar al-Mu’arrab, fiqih mazhab Maliki yang menegaskan keharaman menerima hadiah saat perayaan agama lain, karena termasuk menyerupai perbuatan non-muslim.

 ورويت أيضا أن يحيى بن يحيى الليثي قال لا تجوز الهدايا في الميلاد من النصراني ولا من مسلم ولا إجابة الدعوة فيه ولا استعداد له. وينبغي أن يجعل كسائر الأيام

Artinya: Saya meriwayatkan bahwa Yahya bin Yahya al-Laitsi berkata: Tidak boleh menerima hadiah saat hari raya kaum Nasrani, baik dari kaum Nasrani atau Muslim, demikian pula haram memenuhi panggilan non-muslim di hari tersebut, dan bersiap-siap untuk menyemarakkannya. Dan wajib menjadikan hari-hari tersebut sebagaimana hari-hari biasanya. (Syekh Ahmad bin Yahya al-Winsyarisi al-Maliki, Al-Mi’yar al-Mu’arrab, juz 11, halaman: 150-152).

Baca Juga:

Keutamaan Membaca Asmaul Husna Setiap Hari

Referensi tersebut menegaskan bahwa kewajiban muslim adalah menjadikan hari-hari raya non-muslim sebagai hari-hari seperti biasa, tidak ada yang perlu dispesialkan untuk menyambut atau menyemarakkan. Apabila aktivitas membeli barang diskon natal menjadi identik dengan aktivitas non-muslim, maka referensi di atas menemukan ruang relevansinya.

Meskipun begitu, terdapat pendapat lain dari kalangan Hanabilah (mazhab Hanbali) yang secara tegas menyebutkan kebolehan membeli barang-barang pada saat momen perayaan hari raya non-muslim. 

Menurut pandangan ini, melakukan aktivitas jual-beli pada momen tersebut bukanlah termasuk menyemarakan hari raya mereka, bukan pula termasuk membantu kemaksiatan atau menyerupai aktivitas non-muslim.

Penjelasan ini sebagaimana disampaikan Syekh Muhammad bin Muflih al-Maqdisi al-Hanbali sebagai berikut:


وَقَالَ الْخَلَّالُ : فِي جَامِعِهِ ( بَابٌ فِي كَرَاهِيَةِ خُرُوجِ الْمُسْلِمِينَ فِي أَعْيَادِ الْمُشْرِكِينَ ) وَذَكَرَ عَنْ مُهَنَّا قَالَ سَأَلْتُ : أَحْمَدَ عَنْ شُهُودِ هَذِهِ الْأَعْيَادِ الَّتِي تَكُونُ عِنْدَنَا بِالشَّامِ مِثْلَ دَيْرِ أَيُّوبَ وَأَشْبَاهِهِ يَشْهَدُهُ الْمُسْلِمُونَ يَشْهَدُونَ الْأَسْوَاقَ وَيَجْلِبُونَ فِيهِ الْغَنَمَ وَالْبَقَرَ وَالدَّقِيقَ وَالْبُرَّ وَغَيْرَ ذَلِكَ إلَّا أَنَّهُ إنَّمَا يَكُونُ فِي الْأَسْوَاقِ ، يَشْتَرُونَ وَلَا يَدْخُلُونَ عَلَيْهِمْ بِيَعَهُمْ قَالَ : إذَا لَمْ يَدْخُلُوا عَلَيْهِمْ بِيَعَهُمْ وَإِنَّمَا يَشْهَدُونَ السُّوقَ فَلَا بَأْسَ


Artinya: Al-Khallal berkata dalam kitab al-Jami’-nya, bab kemakruhan keluarnya kaum muslim di hari raya kaum musyrik, Al-Khallal menyebutkan dari Syekh Muhanna, ia berkata: Saya bertanya kepada Imam Ahmad tentang hukum menghadiri hari raya non-muslim ini yang diselenggarakan di negara Syam, sebagaimana juga di Dairi Ayyub dan sesamanya. Kaum muslim menyaksikannya, mereka hadir di pasar-pasar dan mengambil kambing, sapi, roti, gandum dan lainnya di tempat tersebut, namun hanya mereka lakukan di pasar-pasar. Mereka membeli namun tidak sampai masuk ke tempat peribadatan kaum non-muslim. Al-Imam Ahmad berkata, bila mereka tidak memasuki tempat peribadatan non-muslim, dan hanya mengahdiri pasar, maka tidak masalah. (Muhammad bin Muflih al-Maqdisi al-Hanbali, Al-Adab asy-Syar’iyyah, juz , halaman: 123). 

Baca Juga:

Amalan Sunnah Rasul yang Bisa Diterapkan Sehari-hari

Kebolehan dalam referensi di atas harus dibatasi dengan syarat tidak bertujuan menyemarakkan atau mengagungkan hari raya Natal. Apabila terdapat tujuan tersebut, maka hukumnya haram atau bahkan bisa mengakibatkan kekufuran bila sampai taraf mengagungkan sebagaimana mengagungkannya kalangan non-muslim terhadap hari raya mereka.

Sumber:

Syaifullah. (2022). Hukum Belanja saat Banyak Diskon di Hari Natal. jatim.nu.or.id

Pembangunan Masjid Jami’ Minangkabau: Penyaluran Wakaf Bisa melalui ArahMuslim

Minangkabau, 8 Desember 2023 – ArahMuslim, sebagai salah satu startup Nusatek berbasis aplikasi ibadah terlengkap di Indonesia, turut berpartisipasi dalam pembangunan masjid, salah satunya adalah Masjid Jami’ Minangkabau. Pembangunan masjid ini dimulai dengan prosesi peletakan batu pertama, yang menandai langkah awal dalam mewujudkan keindahan arsitektur Minangkabau dalam rumah ibadah.

Masjid ini tak akan hanya menjadi simbol keagamaan, namun juga pusat kegiatan sosial & pendidikan bagi masyarakat. Dengan desain yang menggabungkan estetika tradisional Minangkabau & fasilitas modern, masjid ini diharapkan menjadi landmark baru yang menampakkan nilai-nilai keislaman & kebudayaan setempat.

ArahMuslim membuka jalan kebaikan bagi para Sahabat Muslim untuk berpartisipasi dalam pembangunan Masjid ini, Sahabat Muslim dapat dengan mudah menyalurkan Wakaf untuk mendukung proyek mulia ini. Setiap rezeki yang diberikan, secara langsung InsyaAllah berkontribusi pada kemajuan pembangunan masjid serta membantu mewujudkan visi masjid yang inspiratif.

Mari, wujudkan semangat gotong royong & kebersamaan Umat Muslim dalam tindakan nyata untuk kemaslahatan bersama. Untuk informasi lebih lanjut atau mewakafkan harta, silahkan Download Aplikasi ArahMuslim melalui Google Play Store atau Apple Store. Satu langkah kecil untuk masjid, satu lompatan besar untuk Umat Islam!

5 Penyebab Sempitnya Rezeki Seseorang

Rezeki dalam Islam merujuk pada segala yang diberikan oleh Allah SWT kepada manusia untuk memenuhi kebutuhan hidup, termasuk makanan, minuman, pakaian, harta, kesehatan, dan kehidupan itu sendiri. 

Islam mengajarkan pentingnya usaha, doa, dan tawakal (percaya sepenuhnya kepada Allah) dalam memperoleh rezeki. Selain itu, Islam menekankan kepemilikan sosial dan mengajarkan umatnya untuk berbagi rezeki dengan orang lain. 

Keyakinan akan keadilan Allah dan penghargaan serta syukur atas segala rezeki adalah aspek penting dari keimanan Islam. Rezeki juga mencakup hal-hal non-materi seperti ilmu dan kesehatan. Dengan memahami makna dan nilai rezeki, umat Muslim diharapkan untuk hidup dengan kesyukuran, tawakal, dan kepedulian sosial.

Akan tetapi, di sisi lain tidak sedikit orang yang mengalami rezekinya terhambat. Rezeki yang diusahakan sulit untuk didapatkan dan terhalang oleh sesuatu, padahal orang tersebut telah bekerja keras.

Lantas, apa penyebab sempitnya rezeki? Simak penjelasannya pada artikel ini, ya!

Baca Juga:

Hukum Pinjaman Online dalam Islam

Penyebab Sempitnya Rezeki Seseorang

Dalam Islam, sempitnya rezeki dapat dipengaruhi oleh beberapa faktor atau penyebab. Berikut adalah beberapa faktor yang dapat mempersempit rezeki seseorang dalam perspektif Islam, antara lain:

1. Ketidakpatuhan terhadap Hukum-Hukum Allah

Jika seseorang melanggar hukum-hukum dan aturan-aturan Islam, rezeki mereka dapat menyusut. Misalnya, jika seseorang terlibat dalam riba atau memakan harta yang diperoleh secara haram, hal ini dapat mengakibatkan sempitnya rezeki.

2. Kurangnya Ketaatan dan Taqwa

Ketaatan dan kepatuhan kepada Allah SWT adalah prinsip penting dalam Islam. Jika seseorang kurang dalam hal ini, maka rezeki mereka dapat terhambat.

3. Kurangnya Bersyukur

Islam mengajarkan pentingnya bersyukur atas segala rezeki yang diberikan. Jika seseorang tidak bersyukur atas apa yang telah diberikan Allah SWT, maka hal ini dapat menyebabkan sempitnya rezeki.

4. Boros dan Mubazir

Menghambur-hamburkan harta atau menggunakan uang dengan cara yang tidak bijak dan membuang-buang sumber daya adalah tindakan yang tidak dianjurkan dalam Islam. Hal ini dapat mengakibatkan sempitnya rezeki.

5. Sikap Dengki dan Iri Hati

Sikap iri hati terhadap keberhasilan dan rezeki orang lain dapat mengganggu rezeki seseorang sendiri. Islam mengajarkan pentingnya mencegah dan mengendalikan perasaan dengki.

6. Mengabaikan Hak Orang Lain

Tidak memenuhi hak-hak orang lain atau melakukan kecurangan dalam urusan keuangan dapat mengakibatkan sempitnya rezeki. Islam mengajarkan pentingnya keadilan dan kejujuran dalam urusan keuangan.

7. Kurangnya Usaha dan Kerja Keras

Islam mengajarkan pentingnya usaha dan kerja keras untuk memperoleh rezeki. Jika seseorang malas atau tidak mau berusaha, maka rezeki mereka dapat terbatas.

Baca Juga:

Dampak Riba di Dunia-Akhirat

8. Ketidaksabaran dan Keputusasaan

Ketidaksabaran dan keputusasaan dapat menghambat rezeki seseorang. Islam mengajarkan pentingnya sabar dan tawakal dalam menghadapi cobaan atau kesulitan.

9. Tidak Menunaikan Kewajiban Agama

Menunaikan kewajiban agama seperti shalat, zakat, dan ibadah lainnya adalah penting dalam Islam. Jika seseorang tidak memenuhi kewajiban-kewajiban ini, maka hal ini dapat mempersempit rezeki mereka.

10. Kurangnya Niat Baik

Niat dan tujuan yang baik dalam penggunaan rezeki juga penting dalam Islam. Jika seseorang menggunakan rezeki mereka dengan niat yang buruk atau untuk tujuan yang tidak baik, hal ini dapat mempengaruhi rezeki mereka.

Dalam Islam, penting untuk memahami bahwa rezeki adalah ujian dari Allah SWT dan seseorang harus selalu berusaha untuk memperolehnya dengan cara yang halal dan memanfaatkannya dengan bijak dan bertanggung jawab. Tindakan-tindakan yang melanggar prinsip-prinsip agama dan etika Islam dapat mengakibatkan sempitnya rezeki.

Sumber:

https://www.detik.com/hikmah/khazanah/d-6973712/5-penyebab-sempitnya-rezeki-seseorang-salah-satunya-tidak-pernah-merasa-cukup/amp

Wajib Catat! 7 Keutamaan Salat Berjamaah di Masjid

Salat berjamaah merupakan ibadah salat yang dikerjakan secara bersama-sama atau paling sedikit dua orang. Satu orang akan menjadi imam dan lainnya akan menjadi makmum. Pada dasarnya, hukum melaksanakan salat berjamaah adalah sunnah muakkad atau sangat dianjurkan. Hal ini dikarenakan terdapat sejumlah keutamaan dan manfaat bagi mereka yang mengerjakannya.

Apa saja itu? Simak penjelasannya di bawah ini!

Keutamaan Salat Berjamaah

Salat berjamaah memiliki keutamaan dan nilai penting dalam Islam. Beberapa di antaranya, yaitu:

1. Mendapatkan Pahala Berlipat Ganda

Rasulullah SAW pernah mengatakan bahwa mereka yang melaksanakan salat berjamaah akan memperoleh balasan pahala yang berlipat ganda, sebanyak 25 kali. Hal ini tercantum dalam hadis riwayat Abu Hurairah RA yang berbunyi:

صَلَاةُ الرَّجُلِ فِي الْجَمَاعَةِ تُضَعَفُ عَلَى صَلَاتِهِ فِي بَيْتِهِ وَفِي سُوقِهِ خَمْسًا وَعِشْرِينَ ضِعْفًا

Artinya: “Sholat seorang laki-laki secara berjamaah dilipatgandakan pahala sebanyak dua puluh lima kali lipat daripada sholat di rumah atau di pasarnya.” (HR Bukhari)

Baca Juga:

7 Orang yang Akan Didoakan Malaikat

2. Diampuni Dosanya

Barangsiapa yang selalu bersemangat pergi untuk melaksanakan salat berjamaah, maka Allah SWT akan mengampuni dosa-dosanya. Hal ini juga dicantumkan dalam hadis riwayat muslim yang berbunyi:

مَنْ تَوَضَّأَ لِلصَّلَاةِ، فَأَسْبَغَ الْوُضُوءَ، ثُمَّ مَشَى إِلَى الصَّلَاةِ الْمَكْتُوبَةِ، فَصَلَّاهَا مَعَ النَّاسِ أَوْ مَعَ الْجَمَاعَةِ أَوْ فِي الْمَسْجِدِ غَفَرَ اللَّهُ لَهُ ذُنُوبَهُ

Artinya: “Barang siapa yang menyempurnakan wudhu, lalu pergi untuk sholat wajib bersama orang-orang atau secara berjamaah atau ia sholat di masjid maka Allah ampuni dosa-dosanya.” (HR Muslim)

3. Didoakan Malaikat

Mereka yang melaksanakan salat berjamaah dengan tidak melakukan perbuatan menyakiti atau tidak berhadats akan didoakan oleh para malaikat. Hal ini dijelaskan dalam hadis riwayat Bukhari yang berbunyi:

فَإِذَا صَلَّى لَمْ تَزَلِ الْمَلَائِكَةُ تُصَلِّي عَلَيْهِ مَا دَامَ فِي مُصَلَّاهُ: اللَّهُمَّ صَلَّ عَلَيْهِ اللَّهُمَّ ارْحَمْهُ

Artinya: “Apabila ia masih sholat, maka para malaikat mendoakannya selama berada di tempat sholat: Ya Allah ampunilah ia, ya Allah sayangilah ia.” (HR Bukhari)

4. Dinaikkan Derajatnya

Rasulullah SAW bersabda bahwa setiap langkah seseorang yang ingin melaksanakan salat berjamaah bernilai kebaikan baginya, sehingga ia akan mendapatkan derajat yang tinggi di sisi Allah SWT. Hal ini disampaikan dalam hadis riwayat Muslim yang berbunyi:

مَنْ تَطَهَّرَ فِي بَيْتِهِ ثُمَّ مَشَى إِلَى بَيْتٍ مِنْ بُيُوتِ اللَّهِ لِيَقْضِيَ فَرِيضَةً مِنْ فَرَائِضِ اللَّهِ، كَانَتْ خَطْوَنَاهُ إِحْدَاهُمَا تَحْطُ خَطِيئَةً، وَالْأُخْرَى تَرْفَعُ دَرَجَةً

Artinya: “Barangsiapa yang bersuci di rumahnya, lalu ia pergi ke rumah Allah (tempat sholat) untuk melaksanakan sholat wajibnya, maka tiap langkahnya salah satunya menghapus dosa dan satunya lagi mengangkat derajat.” (HR Muslim)

Baca Juga:

Keutamaan Membaca Asmaul Husna

5. Menjaga Persatuan dan Kebersamaan Umat Muslim

Persatuan dan kebersamaan umat muslim dapat semakin dieratkan, melalui salat berjamaah di masjid. Ketika umat muslim berkumpul di masjid, mereka akan merasakan kebersamaan, saling mengenal dan memperkuat ikatan sosial antar sesamanya.

6. Mendapatkan Cahaya di Hari Kiamat

Rasulullah SAW pernah mengatakan bahwa kehadiran seorang muslim dalam salat berjamaah di masjid akan memberikannya keberkahan dan perlindungan di akhirat. Mereka yang melaksanakannya akan diberi cahaya di hari kiamat untuk menerangi jalannya menuju surga.

7. Perlindungan dari Godaan Syaitan

Ketika seorang muslim berada di masjid, maka syaitan akan menjauhinya sehingga ia dapat melaksanakan salat dengan khidmat dan khusyuk.

Sumber:

Baznas.go.id. (2023). Hikmah Salat Berjamaah di Masjid

Ini Fatwa MUI tentang Boikot Produk Israel

/fatwa-mui-produk-israel

Majelis Ulama Indonesia (MUI) telah mengeluarkan keputusan mengenai boikot produk Israel maupun produk yang mendukung Israel. Berikut ini penjelasannya.

Isi Fatwa MUI

Majelis Ulama Indonesia (MUI) mengeluarkan Fatwa Nomor 83 Tahun 2023 tentang Hukum Dukungan terhadap Pejuang Palestina. Fatwa tersebut mengatakan bahwa mendukung perjuangan kemerdekaan Palestina atas agresi Israel hukumnya wajib, sedangkan mendukung agresi Israel terhadap Palestina hukumnya haram.

Berikut ini bunyi fatwa MUI tentang produk Israel.

Memutuskan

Menetapkan : Fatwa Tentang Hukum Dukungan Terhadap Perjuangan Palestina

Pertama : Ketentuan Hukum

1. Mendukung perjuangan kemerdekaan Palestina atas agresi Israel hukumnya wajib.

2. Dukungan sebagaimana disebutkan pada point (1) di atas, termasuk dengan mendistribusikan zakat, infaq dan sedekah untuk kepentingan perjuangan rakyat Palestina.

3. Pada dasarnya dana zakat harus didistribusikan kepada mustahik yang berada di sekitar muzakki. Dalam hal keadaan darurat atau kebutuhan yang mendesak dana zakat boleh didistribusikan ke mustahik yang berada di tempat yang lebih jauh, seperti untuk perjuangan Palestina.

4. Mendukung agresi Israel terhadap Palestina atau pihak yang mendukung Israel baik langsung maupun tidak langsung hukumnya haram.

Baca Juga:

Amalan ini Dapat Membuat Hati Tentram

Tujuan Penerbitan

Melalui fatwa tersebut, MUI menilai agresi dan aneksasi Israel terhadap Palestina telah mengakibatkan korban jiwa berjatuhan, korban luka yang tidak terhitung, ribuan warga mengungsi, serta hancurnya rumah, gedung, serta fasilitas publik.

Pada fatwa tersebut, MUI mengimbau umat Islam agar mendukung perjuangan Palestina, seperti gerakan menggalang dana kemanusiaan dan perjuangan, mendoakan untuk kemenangan, dan melakukan salat gaib untuk para korban di Palestina.

Selain itu, fatwa MUI meminta pemerintah untuk mengambil langkah-langkah tegas membantu perjuangan Palestina, seperti melalui jalur diplomasi di PBB untuk menghentikan perang dan sanksi pada Israel, pengiriman bantuan kemanusiaan, dan konsolidasi negara-negara OKI untuk menekan Israel menghentikan agresi.

Kemudian, fatwa MUI juga merekomendasikan agar umat Islam menghindari penggunaan produk yang terafiliasi dengan Israel atau produk yang mendukungnya.

Baca Juga:

Tanda-tanda Meninggal secara Husnul Khatimah

Sumber:

Tentang Fatwa MUI

Daftar Produk yang Pro Israel

Etika Bersedekah dalam Islam

Bersedekah dalam Islam merupakan suatu tindakan pemberian atau sumbangan secara sukarela yang dilakukan oleh individu atau kelompok kepada orang lain atau entitas yang membutuhkan, dengan tujuan untuk memperoleh pahala di sisi Allah SWT. Sedekah adalah salah satu dari lima rukun Islam dan merupakan aspek penting dalam kehidupan umat Muslim.

Tindakan ini mencerminkan nilai-nilai keadilan, kasih sayang dan solidaritas sosial. Sedekah juga dianggap sebagai cara untuk membersihkan harta dan jiwa dari sifat serakah, serta memperoleh keberkahan dalam kehidupan sehari-hari.

Baca Juga:

3 Kemuliaan Memuliakan Anak Yatim

Dalam surah Al-Baqarah ayat 261, Allah SWT berfirman: “Perumpamaan orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir seratus biji. Allah akan melipat gandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Mahaluas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahui.”

Dengan bersedekah, umat Islam diingatkan untuk senantiasa peduli terhadap sesama manusia, membantu mereka yang membutuhkan, dan membangun masyarakat yang adil dan berkeadilan. Hal ini juga merupakan salah satu cara untuk memperkuat tali persaudaraan dalam komunitas Muslim dan memperluas rasa persatuan di antara umat manusia secara keseluruhan.

Meskipun begitu, ketika bersedekah, tentu ada sejumlah etika yang perlu diperhatikan agar sedekah yang diberikan menghasilkan keberkahan bagi semua orang. Apa saja etika tersebut? Simak penjelasannya di bawah ini!

Apa saja Etika dalam Bersedekah?

Etika dalam bersedekah sangatlah penting dalam Islam, karena membantu memastikan bahwa tindakan kebaikan ini dilakukan dengan cara yang benar dan bermanfaat. Berikut adalah beberapa etika yang perlu diperhatikan ketika melakukan bersedekah dalam Islam:

1. Ikhlas

Niat yang ikhlas adalah aspek terpenting dalam bersedekah. Bersedekah harus dilakukan semata-mata untuk mencari ridha Allah SWT dan membantu sesama manusia, bukan untuk mencari pujian atau pengakuan dari orang lain.

2. Rahasia dan Tidak Berlebihan

Dalam Islam, disarankan untuk menjaga kerahasiaan bersedekah sebisa mungkin. Maksudnya, tidak perlu memamerkan atau memberi tahu orang lain tentang jumlah atau jenis bantuan yang diberikan.

3. Adil

Sebagai seorang Muslim, penting untuk memperlakukan semua penerima bantuan dengan adil dan tidak membeda-bedakan berdasarkan agama, ras atau status sosial. Semua orang yang membutuhkan perlu diberi pertolongan yang seadil-adilnya.

4. Menghormati Martabat Penerima

Saat memberi bantuan, penting untuk melakukannya dengan hormat dan penuh penghargaan terhadap martabat penerima. Pemberi sedekah tidak boleh memandang rendah atau mempermalukan mereka.

5. Membantu Orang yang Membutuhkan dengan Bijak

Sebelum memberi bantuan, penting untuk memastikan bahwa bantuan tersebut akan benar-benar membantu penerima dan tidak akan memberikan dampak negatif atau ketergantungan yang berlebihan.

Baca Juga:

7 Orang yang Akan Didoakan Malaikat

6. Menjaga Privasi Orang yang Membutuhkan

Jika bantuan diberikan secara langsung kepada individu tertentu, pastikan untuk melakukannya dengan hormat dan menjaga privasi mereka. Hindari mempublikasikan atau membagikan informasi pribadi tanpa izin mereka.

7. Bersedekah Secara Teratur dan Konsisten

Islam mendorong umatnya untuk memberi sedekah secara teratur, meskipun jumlahnya kecil. Konsistensi dalam bersedekah membantu membangun kebiasaan kebaikan dan membantu memenuhi kebutuhan yang terus-menerus.

Sumber:

Etika dalam Bersedekah

Menebar Kebaikan Lewat Aqiqah, ArahMuslim Menjalin Kerja Sama dengan Cahaya Aqiqah

Jakarta, Oktober 2023 – Aqiqah merupakan bentuk rasa syukur atas kelahiran buah cinta, agar keluarga diberikan keberkahan dalam setiap langkahnya. Aqiqah sendiri disalurkan kepada orang-orang yang membutuhkan, khususnya tetangga terdekat kita. 

Dan saat ini, telah banyak kemudahan untuk pesan/daftar Aqiqah dimana pun & kapan pun. Berangkat dari hal tersebut, ArahMuslim berkolaborasi dengan Cahaya Aqiqah, sebagai salah satu jasa Aqiqah yang InsyaAllah amanah, memberikan kemudahan kepada Sahabat Muslim. 

Bagi Sahabat Muslim yang ingin melaksanakan Aqiqah, kini tak perlu bingung & repot untuk pesan/daftar dimana. Karena telah hadir di ArahMuslim, fitur Aqiqah, yang bekerja sama dengan beberapa lembaga terpercaya. 

Pesan Aqiqah? Ya di ArahMuslim aja!

Kerja Sama ArahMuslim dengan Ekosistem Digital Halal

Jakarta, September 2023 – Alhamdulillahirabbil’alamiin… 

ArahMuslim kembali mengadakan kerja sama dalam rangka menebarluaskan ekosistem digital halal di Indonesia. Kerja sama & kolaborasi kali ini bersama PT. Halal Syariah Integrasi, sebuah ekosistem yang memfasilitasi pelatihan, sertifikasi, dan konsultasi di bidang halal-syariah. 

Terima kasih PT. Halal Syariah Integrasi atas kesempatannya & keinginannya untuk bekerja sama dengan ArahMuslim, semoga dengan kerja sama ini, ekosistem digital halal di Indonesia semakin meluas & menambah kebermanfaatan bagi Umat, Aamiin.