Sholat merupakan tiang agama yang perlu ditanamkan sejak dini, agar kelak menjadi kebiasaan yang melekat kuat dalam diri anak, bukan sekadar kewajiban yang dijalankan dengan terpaksa. Rasulullah SAW sendiri memberikan panduan yang jelas mengenai kapan dan bagaimana seharusnya orang tua mulai mengenalkan sholat kepada buah hatinya.
Namun, menanamkan kebiasaan ini tidak selalu mudah, terutama di tengah berbagai distraksi yang dihadapi anak-anak saat ini. Lalu, bagaimana cara menanamkan kebiasaan sholat pada anak agar benar-benar tertanam sejak dini, bukan sekadar rutinitas yang dijalankan tanpa makna? Simak penjelasan lengkapnya berikut ini.
Ringkasan
|
Mengapa Usia 7 Tahun Menjadi Patokan Penting?
Rasulullah SAW bersabda, “Perintahkanlah anak-anak kalian untuk mengerjakan sholat ketika mereka berusia tujuh tahun, dan pukullah mereka jika meninggalkannya ketika mereka berusia sepuluh tahun, serta pisahkanlah tempat tidur mereka,” sebagaimana diriwayatkan dalam hadis riwayat Abu Dawud. Hadis ini menjadi panduan mengenai kapan sebaiknya mulai mengenalkan dan membiasakan anak untuk mendirikan sholat.
Usia 7 tahun dipilih karena pada rentang usia tersebut, anak mulai mampu memahami instruksi dan membentuk kebiasaan secara lebih matang. Dengan memperkenalkan sholat sejak usia ini, diharapkan ketika memasuki usia baligh, anak sudah terbiasa dan tidak lagi menganggap sholat sebagai sesuatu yang asing atau memberatkan.
Apa Saja Cara Menanamkan Kebiasaan Sholat pada Anak?
Berikut beberapa cara yang dapat diterapkan orang tua untuk menanamkan kebiasaan sholat pada anak:
1. Memberikan Teladan Langsung
Anak cenderung meniru apa yang dilihatnya, sehingga orang tua yang konsisten mendirikan sholat tepat waktu akan menjadi teladan paling efektif. Mengajak anak sholat berjamaah di rumah sejak dini, meski gerakannya belum sempurna, dapat membentuk kedekatan emosional antara ibadah dan kehidupan sehari-hari anak.
2. Mengenalkan Sholat Sejak Usia Dini
Meski kewajiban baru ditekankan pada usia 7 tahun, mengenalkan gerakan dan bacaan sholat sejak usia lebih dini, misalnya dengan mengajak anak berdiri di samping saat orang tua sholat, dapat membantu anak terbiasa dengan suasana ibadah ini jauh sebelum usia wajib tiba.
3. Membuat Pengalaman Sholat Menyenangkan
Menghindari kesan bahwa sholat adalah beban menjadi penting agar anak tidak tumbuh dengan persepsi negatif terhadap ibadah ini. Memberikan apresiasi sederhana, seperti pujian atau pelukan setelah anak sholat, dapat membuat pengalaman beribadah terasa lebih positif dan dinantikan.
4. Konsisten dan Sabar dalam Membiasakan
Membentuk kebiasaan membutuhkan waktu dan pengulangan yang konsisten. Orang tua perlu bersabar menghadapi fase anak yang mungkin masih sering lupa atau malas, tanpa langsung memarahi secara berlebihan, karena pendekatan yang lembut sejalan dengan cara mendidik anak menurut Islam yang mengutamakan kasih sayang.
5. Melibatkan Peran Ayah sebagai Imam Keluarga
Peran ayah sangat penting dalam menanamkan kebiasaan ibadah, termasuk sholat, karena ayah berfungsi sebagai pemimpin sekaligus teladan utama dalam keluarga. Sejalan dengan keistimewaan sosok ayah dalam Islam sebagai pendidik utama, ayah yang aktif mengajak anak sholat berjamaah akan memberikan dampak besar bagi kedisiplinan ibadah anak di kemudian hari.
Bagaimana Jika Anak Masih Sulit Diajak Sholat?
Perintah untuk “memukul” dalam hadis Rasulullah SAW dipahami para ulama bukan sebagai bentuk kekerasan fisik yang menyakiti, melainkan sebagai bentuk ketegasan yang mendidik, dengan tetap memperhatikan kondisi dan perasaan anak. Jika anak masih sulit diajak sholat meski sudah diberi teladan dan pembiasaan, orang tua perlu mencari tahu penyebabnya dan mencari solusinya.
Pendekatan personal dan komunikasi yang hangat, dibandingkan paksaan yang keras, umumnya lebih efektif dalam jangka panjang. Memberikan pemahaman tentang makna dan manfaat sholat secara bertahap, sesuai usia dan kemampuan anak, dapat membantu anak lebih memahami pentingnya ibadah ini, bukan sekadar menjalankannya karena takut dimarahi.
Kesimpulan
Menanamkan kebiasaan sholat pada anak sejak dini dapat dilakukan melalui keteladanan langsung, pengenalan sejak usia dini, menciptakan pengalaman yang menyenangkan, konsistensi, serta melibatkan peran aktif ayah sebagai pemimpin keluarga. Usia 7 tahun menjadi patokan penting sesuai anjuran Rasulullah SAW untuk mulai membiasakan anak mendirikan sholat.
Dengan pendekatan yang penuh kasih sayang dan konsisten, diharapkan sholat dapat tertanam dalam diri anak bukan sekadar rutinitas, melainkan kebutuhan spiritual yang dijalankan dengan kesadaran penuh. Yuk, terus tambah wawasan seputar pendidikan Islami untuk anak bersama ArahMuslim.
Referensi:
https://yatimmandiri.org/blog/parenting/membiasakan-anak-sholat/







No comment yet, add your voice below!