Kenapa Selalu Merasa Ketinggalan? Begini Islam Memandang FOMO

Pernahkah Sahabat Muslim merasa cemas saat melihat teman-teman di media sosial sedang liburan, membeli barang baru, atau menghadiri acara seru, sementara diri sendiri tidak ikut serta? Perasaan ini dikenal dengan istilah FOMO atau Fear of Missing Out, yaitu rasa takut tertinggal atau merasa cemas karena tidak terlibat dalam suatu momen yang dianggap penting oleh orang lain.

Fenomena ini semakin marak seiring meningkatnya penggunaan media sosial, di mana unggahan orang lain sering kali memicu perbandingan sosial yang tidak disadari. Lalu, bagaimana Islam memandang fenomena FOMO ini dan apa saja cara mengatasinya agar hati lebih tenang? Simak penjelasan lengkapnya berikut ini.

Ringkasan

  • FOMO atau Fear of Missing Out adalah rasa cemas dan takut tertinggal yang muncul akibat melihat aktivitas orang lain, terutama di media sosial.
  • Islam mengajarkan pentingnya menjaga hati dari sifat iri dan selalu membanding-bandingkan diri dengan orang lain, karena setiap rezeki dan ketetapan hidup telah diatur oleh Allah SWT.
  • Beberapa cara mengatasi FOMO menurut Islam antara lain memperbanyak rasa syukur, membatasi penggunaan media sosial, serta mengisi waktu dengan amalan yang lebih bermanfaat.

Apa Itu FOMO dan Mengapa Banyak Dialami Saat Ini?

FOMO merupakan istilah psikologi yang menggambarkan kecemasan seseorang karena merasa tertinggal dari pengalaman, tren, atau momen yang sedang dijalani orang lain. Fenomena ini banyak dikaitkan dengan kebiasaan scrolling media sosial, di mana seseorang terus-menerus memantau unggahan orang lain demi merasa tetap terhubung, meski hal tersebut justru dapat menimbulkan kelelahan secara emosional.

Berbagai penelitian menunjukkan bahwa semakin intens seseorang menggunakan media sosial, semakin besar pula kecenderungannya mengalami FOMO, terutama akibat perbandingan sosial yang muncul saat melihat kehidupan orang lain yang tampak lebih sempurna. Kondisi ini banyak dialami generasi muda yang tumbuh di tengah derasnya arus informasi digital.

Bagaimana Islam Memandang Fenomena FOMO?

Meski istilah FOMO tergolong modern, akar permasalahannya sebenarnya telah lama diperingatkan dalam Islam, yaitu sifat iri hati dan kebiasaan membanding-bandingkan diri dengan orang lain. Allah SWT berfirman dalam Surah An-Nisa ayat 32 agar manusia tidak iri hati terhadap karunia yang diberikan kepada orang lain, karena setiap orang telah mendapatkan bagiannya masing-masing sesuai usaha dan ketetapan Allah SWT.

Islam juga mengajarkan pentingnya menjaga hati dari sifat hasad, karena perasaan iri dan selalu merasa kurang dapat menggerogoti ketenangan jiwa seseorang. Dengan memahami bahwa rezeki, kebahagiaan, dan ketetapan hidup setiap orang berbeda-beda dan telah diatur oleh Allah SWT, seorang Muslim dapat lebih mudah menerima keadaan dirinya tanpa harus terus-menerus membandingkan dengan pencapaian orang lain.

Apa Saja Cara Mengatasi FOMO Menurut Islam?

Berikut beberapa cara yang dapat diterapkan untuk mengatasi FOMO sesuai perspektif Islam:

1. Memperbanyak Rasa Syukur

Rasa syukur menjadi kunci utama untuk meredam kecemasan akibat FOMO. Dengan terus mengingat dan mensyukuri nikmat yang telah dimiliki, seseorang akan lebih mudah merasa cukup, alih-alih terus membandingkan diri dengan apa yang dimiliki atau dialami orang lain.

2. Membatasi Penggunaan Media Sosial

Membatasi waktu penggunaan media sosial, terutama kebiasaan scrolling tanpa tujuan, dapat membantu mengurangi paparan konten yang memicu perbandingan sosial. Menentukan waktu khusus untuk membuka media sosial, lalu menjauh dari gawai di waktu lainnya, menjadi langkah sederhana namun efektif untuk menjaga ketenangan pikiran.

3. Menyadari bahwa Media Sosial Tidak Mencerminkan Kenyataan Sepenuhnya

Penting untuk disadari bahwa apa yang ditampilkan di media sosial umumnya merupakan sisi terbaik dari kehidupan seseorang, bukan gambaran utuh dari realitas yang mereka jalani. Dengan memahami hal ini, Sahabat Muslim dapat lebih bijak dalam menyikapi unggahan orang lain tanpa harus merasa minder atau tertinggal.

4. Mengisi Waktu dengan Amalan yang Lebih Bermanfaat

Mengalihkan waktu yang biasa dihabiskan untuk memantau media sosial menjadi amalan yang lebih bermanfaat, seperti membaca Al-Qur’an, berdzikir, atau mengembangkan keterampilan baru, dapat membantu mengurangi kecenderungan FOMO sekaligus mendatangkan manfaat jangka panjang. Kebiasaan ini juga sejalan dengan upaya menjaga ketenangan hati di tengah derasnya arus informasi digital.

5. Fokus pada Tujuan dan Prioritas Hidup Sendiri

Menetapkan tujuan dan prioritas hidup yang jelas dapat membantu seseorang lebih fokus pada perjalanannya sendiri, alih-alih terus mengikuti standar atau tren yang ditetapkan orang lain. Prinsip ini juga sejalan dengan upaya menjaga keseimbangan antara kerja dan kehidupan ala Islam, yang menekankan pentingnya menata prioritas sesuai nilai-nilai yang dipegang, bukan sekadar mengikuti arus media sosial.

Kesimpulan

FOMO atau rasa takut tertinggal merupakan fenomena yang semakin umum dialami di era digital, namun akar permasalahannya, yaitu sifat iri dan kebiasaan membanding-bandingkan diri, sebenarnya telah lama diperingatkan dalam Islam. Dengan memperbanyak rasa syukur, membatasi penggunaan media sosial, serta mengisi waktu dengan amalan yang lebih bermanfaat, kecemasan akibat FOMO dapat berangsur-angsur diatasi.

Semoga dengan menerapkan cara-cara ini, Sahabat Muslim dapat menjalani hidup dengan lebih tenang, bersyukur, dan tidak mudah terombang-ambing oleh standar yang ditetapkan media sosial. Yuk, terus tambah wawasan seputar ketenangan hidup Islami bersama ArahMuslim.

Referensi: 

https://ejournal.upi.edu/index.php/sosietas/article/download/59985/30974

https://doaj.org/article/5bf43facabcb4a25bc05e043665c423d

FAQ

FOMO atau Fear of Missing Out adalah rasa cemas dan takut tertinggal yang muncul akibat melihat aktivitas, tren, atau momen yang sedang dijalani orang lain, terutama di media sosial.

Media sosial umumnya hanya menampilkan sisi terbaik kehidupan seseorang, sehingga dapat memicu perbandingan sosial dan membuat seseorang merasa hidupnya kurang menarik atau tertinggal dibandingkan orang lain.

Islam mengajarkan untuk menjauhi sifat iri dan hasad, sebagaimana disebutkan dalam Surah An-Nisa ayat 32, karena setiap orang telah mendapatkan bagian rezeki dan ketetapan hidupnya masing-masing dari Allah SWT.

Recommended Posts

No comment yet, add your voice below!


Add a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *