Ucapan selamat, kue dengan lilin, dan kejutan kecil dari keluarga atau sahabat sudah menjadi pemandangan umum setiap kali ada yang berulang tahun. Bagi sebagian Muslim, momen ini terasa manis dan penuh syukur. Bagi sebagian lainnya, muncul keraguan: apakah merayakan ulang tahun diperbolehkan dalam Islam, dan bagaimana dengan tradisi meniup lilin?
Para ulama memang berbeda pendapat dalam hal ini, dan perbedaan itu sudah dikenal sejak lama. Karena itu, penting memahami alasan masing-masing pandangan agar kita bisa bersikap bijak, baik dalam memilih maupun dalam menghormati orang yang berbeda pilihan. Lalu, bagaimana sebenarnya hukum merayakan ulang tahun dalam Islam? Simak penjelasan lengkapnya berikut ini.
Ringkasan
|
Mengapa Hukum Ulang Tahun Diperdebatkan?
Tidak ada ayat Al-Qur’an maupun hadis yang secara tegas memerintahkan atau melarang perayaan ulang tahun. Majelis Tarjih dan Tajdid Muhammadiyah menjelaskan bahwa peringatan ulang tahun atau milad termasuk persoalan ijtihadiyah, sehingga hukumnya dikembalikan pada kaidah umum syariat, yaitu menimbang apakah kegiatan itu mendatangkan kemaslahatan atau justru kemudaratan.
Karena tidak ada nash yang tegas, para ulama merujuk pada dalil-dalil umum. Pihak yang melarang berpegang pada anjuran agar tidak menyerupai suatu kaum, serta pada pemahaman bahwa hari raya dalam Islam hanya dua, yaitu Idulfitri dan Iduladha. Pihak yang membolehkan memandang ulang tahun sebagai kebiasaan sosial, bukan ibadah, yang boleh dilakukan selama isinya tidak melanggar syariat.
Bagaimana Cara Bersyukur di Hari Ulang Tahun yang Sesuai Syariat?
Apa pun pandangan yang diikuti, bertambahnya usia adalah pengingat bahwa jatah waktu kita berkurang. Rasulullah SAW pernah ditanya tentang siapa manusia terbaik, lalu beliau menjawab bahwa mereka adalah orang yang panjang umurnya dan baik amalnya (HR. Tirmidzi). Berikut beberapa cara bersyukur yang aman dari perdebatan:
1. Muhasabah dan Evaluasi Diri
Gunakan hari ulang tahun untuk menengok kembali satu tahun terakhir: ibadah apa yang sudah terjaga, apa yang masih kurang, dan apa yang ingin diperbaiki. Jika iman terasa naik turun, simak juga langkah muhasabah dalam artikel terkait iman turun.
2. Berdoa agar Umur Penuh Keberkahan
Alih-alih sekadar mengharap panjang umur, doakan agar umur yang tersisa penuh ketaatan dan manfaat. Doa seperti ini bisa disampaikan keluarga atau sahabat sebagai ucapan yang tulus.
3. Bersedekah dan Berbagi Makanan
Berbagi makanan kepada tetangga, anak yatim, atau orang yang membutuhkan adalah cara bersyukur yang disepakati kebaikannya. Ustaz Yayuli dari kajian Tarjih UMS menyebut bahwa makan bersama dan sedekah dibolehkan selama diniatkan sebagai syukur kepada Allah.
4. Berterima Kasih kepada Orang Tua
Hari lahir adalah momen yang pas untuk berterima kasih kepada orang tua yang telah melahirkan dan membesarkan. Menelepon, berkunjung, atau mendoakan mereka akan lebih bermakna daripada pesta yang meriah.
5. Menghindari Hal-Hal yang Bermasalah
Hindari pemborosan, musik dan hiburan yang melalaikan, percampuran yang dilarang, serta tradisi tiup lilin. Pastikan juga acara tidak membuat kita menunda shalat. Jika ada teman yang merayakan dengan cara berbeda, tetap jaga adab dalam perbedaan pendapat dan hindari saling menyalahkan.
Kesimpulan
Hukum merayakan ulang tahun dalam Islam adalah persoalan ijtihadiyah yang diperdebatkan. Sebagian ulama melarangnya karena alasan tasyabbuh dan tidak adanya tuntunan, sedangkan sebagian lain membolehkannya selama tidak ada unsur yang diharamkan. Tradisi meniup lilin sebaiknya dihindari karena tidak memiliki tuntunan dalam Islam.
Apa pun pilihan kita, hari ulang tahun dapat menjadi momen untuk bersyukur, bermuhasabah, bersedekah, dan memperbaiki diri. Semoga bertambahnya usia membuat kita semakin dekat dengan Allah SWT. Yuk, terus tambah wawasan seputar fiqih sehari-hari bersama ArahMuslim.
Referensi: https://lampung.nu.or.id/syiar/perbedaan-pendapat-ulama-tentang-perayaan-hari-ulang-tahun-MKLW7







No comment yet, add your voice below!