Bagi bangsa Indonesia, kemerdekaan bukanlah hadiah yang jatuh begitu saja dari langit. Ia adalah buah dari tetesan keringat, air mata, dan darah para pejuang. Namun, jika kita membuka kembali lembaran sejarah, ada satu motor penggerak perlawanan yang sangat dahsyat namun perannya sempat tersisih dalam narasi sejarah mainstream. Mereka adalah para ulama dan santri.
Salah satu tonggak sejarah paling heroik yang melibatkan kaum bersarung ini adalah dicetuskannya Resolusi Jihad. Sebuah maklumat suci yang tidak hanya membakar semangat umat Islam, tetapi juga menjadi pondasi utama meletusnya pertempuran legendaris 10 November di Surabaya.
Bagaimana sebenarnya sejarah Resolusi Jihad ini bermula, dan seberapa besar peran ulama dalam merebut serta mempertahankan kemerdekaan Indonesia? Yuk, kita ulik bersama!
Indonesia yang Kembali Terancam
Setelah Proklamasi Kemerdekaan pada 17 Agustus 1945, kondisi Indonesia belum sepenuhnya aman. Euforia kemerdekaan mendadak berubah menjadi ketegangan ketika tentara Sekutu (AFNEI) yang diboncengi oleh NICA (Belanda) kembali menginjakkan kaki di tanah air. Tujuan mereka jelas: ingin menjajah kembali Indonesia yang baru seumur jagung.
Pemerintah Indonesia saat itu berada dalam posisi dilematis antara jalur diplomasi dan konfrontasi fisik. Melihat situasi yang kian genting, Presiden Soekarno mengirim utusan untuk menemui pendiri Nahdlatul Ulama (NU), Hadratussyaikh KH Hasyim Asy’ari, di Jombang. Bung Karno meminta fatwa hukum membela tanah air dalam pandangan Islam.
Lahirnya Resolusi Jihad: Panggilan Suci Membela Tanah Air

Merespons kegentingan tersebut, KH Hasyim Asy’ari mengumpulkan para ulama se-Jawa & Madura di Kantor Pengurus Besar NU di Bubutan, Surabaya. Setelah berdiskusi secara mendalam, tepat pada tanggal 22 Oktober 1945, dicetuskanlah sebuah keputusan monumental yang dikenal sebagai Resolusi Jihad.
Ada tiga poin inti dari isi Resolusi Jihad yang menggetarkan tersebut:
- Memohon dengan sangat kepada Pemerintah Republik Indonesia agar menentukan suatu sikap dan tindakan yang nyata serta sepadan terhadap usaha-usaha yang membahayakan kemerdekaan agama dan Negara Indonesia.
- Memerintahkan melanjutkan perjuangan bersifat sabilillah untuk tegaknya Negara Republik Indonesia Merdeka dan Agama Islam.
- Menegaskan bahwa melawan penjajah adalah Fardhu ‘Ain (kewajiban individu) bagi setiap Muslim yang berada dalam radius 94 kilometer dari posisi musuh. Sementara bagi yang berada di luar radius tersebut, hukumnya menjadi Fardhu Kifayah.
“Membela tanah air adalah bagian dari iman (Hubbul Wathan Minal Iman).“
Semangat inilah yang ditanamkan para ulama kepada para santri.
Dampak Resolusi Jihad: Pemicu Perang 10 November
Efek dari Resolusi Jihad ini luar biasa. Fatwa ini laksana bensin yang menyiram api semangat perlawanan rakyat. Ribuan santri, kiai, dan masyarakat sipil dari berbagai daerah langsung berbondong-bondong menuju Surabaya. Mereka bergabung dalam barisan Laskar Hizbullah (dipimpin KH Zainul Arifin) dan Laskar Sabilillah (dipimpin KH Masjkur).
Tanpa adanya Resolusi Jihad 22 Oktober, perlawanan semesta pada Pertempuran 10 November di Surabaya mungkin tidak akan pernah sedahsyat itu. Pekik takbir yang digelorakan oleh Bung Tomo di radio pun sejatinya didapatkan setelah ia berkonsultasi dan mendapat restu dari KH Hasyim Asy’ari. Bagi para santri, maju ke medan perang bukan lagi sekadar urusan politik atau negara, melainkan sebuah ibadah tertinggi: mati syahid demi membela kebenaran.
Peran Ulama dalam Kemerdekaan Indonesia

Selain Resolusi Jihad, peran ulama dalam kemerdekaan Indonesia sebenarnya sudah mengakar jauh sebelum tahun 1945. Peran mereka dapat dibagi dalam beberapa aspek penting:
- Pendidikan dan Kesadaran Nasional: Melalui jaringan pesantren, para ulama menanamkan mental manusia merdeka. Pesantren menjadi institusi yang paling steril dari pengaruh budaya dan politik kolonial Belanda.
- Perumus Dasar Negara: Tokoh-tokoh ulama seperti KH Wahid Hasyim (putra KH Hasyim Asy’ari) dan Ki Bagus Hadikusumo terlibat aktif dalam BPUPKI dan PPKI. Mereka melahirkan kompromi besar dalam Pancasila (Sila Pertama) yang menjaga keutuhan Indonesia dari sabang sampai Merauke.
- Diplomasi Internasional: Tokoh seperti Haji Agus Salim, yang menguasai banyak bahasa asing dan memiliki kedalaman ilmu agama, menjadi ujung tombak diplomasi yang berhasil merebut pengakuan kedaulatan Indonesia dari negara-negara Arab.
Meneladani Semangat Jihad di Era Modern
Kini, momen bersejarah 22 Oktober telah resmi diperingati sebagai Hari Santri Nasional oleh pemerintah Indonesia. Hal ini menjadi bukti dan penghormatan resmi bahwa ulama dan santri punya saham besar atas berdirinya republik ini.
Namun, bagaimana cara kita meneladani sejarah Resolusi Jihad ini di masa sekarang?
Tentu bukan lagi dengan mengangkat senjata atau bambu runcing. Jihad hari ini adalah jihad melawan kebodohan, kemiskinan, berita bohong (hoax), dan perpecahan bangsa.
Sebagai generasi Muslim modern, tugas kita adalah merawat warisan para ulama dengan cara menjadi pribadi yang berdampak positif, menguasai teknologi, namun tetap memiliki akhlakul karimah dan kecintaan yang utuh pada tanah air.
Yuk, Sahabat ArahMuslim, share artikel ini ke grup WhatsApp atau media sosial kamu agar makin banyak generasi muda yang melek sejarah dan bangga pada perjuangan para ulama kita!






No comment yet, add your voice below!